Cross Selling dan Upselling, Mana yang Lebih Baik?

Cross Selling dan Upselling, Mana yang Lebih Baik?

Cross selling dan upselling merupakan dua strategi yang secara luas digunakan oleh banyak brand untuk meningkatkan profit mereka dan membagi value pembelian dengan nilai rata-ratanya. Kedua stratregi marketing ini sebenarnya sangat sederhana tapi juga sangat efektif untuk meningkatkan penjualan bisnis Anda.

Menggaet konsumen-konsumen baru bisa dibilang akan membutuhkan biaya lebih mahal daripada mempertahankan konsumen yang sudah ada atau konsumen lama. Di samping itu, konsumen loyal membeli lebih sering dibandingkan dengan prospek-prospek baru. Jadi, jika Anda mengabaikan strategi cross selling dan upselling ini untuk diterapkan ke kustomer Anda saat ini, Anda benar-benar sudah melewatkan kesempatan untuk mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan profit yang sangat banyak.

Meskipun cross selling dan upselling sama-sama merupakan strategi marketing, namun keduanya memiliki teknik atau metode yang berbeda. Bagaimana, sih, cara kerja cross selling dan upselling? Dan mana yang lebih baik, cross selling atau upselling? Yuk, kita bahas lebih lanjut pada artikel ini.

Apa itu Cross-Selling?

Cross selling adalah sebuah teknik dalam strategi marketing yaitu mempersuasi, mengajak, dan mendorong konsumen untuk membeli produk atau jasa lain selain barang atau jasa yang sudah hendak dibeli sebagai tambahan. Seringkali barang yang dilibatkan dalam strategi cross selling adalah barang komplementer atau barang yang bisa melengkapi dari barang apa yang sudah dipilih untuk dibeli, sehingga konsumen akan merasa lebih punya alasan untuk membeli keduanya atau bahkan beberapa barang sekaligus karena barangnya saling berkaitan.

Setelah konsumen sudah memasukkan belanjaan ke keranjang belanja atau hendak membayar di kasir, secara implisit mereka mensinyalkan bahwa mereka adalah konsumen aktif dan punya intensi untuk membeli. Pada titik siklus hidup pembeli ini, sebuah bisnis seringkali akan mengimplementasikan teknik cross selling ini dengan merekomendasikan sebuah barang komplementer atau dengan memberikan diskon jika kedua barangnya dibeli langsung. Seiring dengan kenyataan bahwa konsumen sudah siap untuk melakukan pembelian pada tahap ini, mereka akan cenderung punya perilaku impulsif di menit-menit terakhir.

Apa itu Upselling?

Upselling adalah sebuah strategi penjualan ketika konsumen didorong untuk membeli sesuatu yang akan membuat pembelanjaan awal mereka bahkan menjadi lebih worthy. Upselling adalah teknik untuk memberi penawaran upgrade atau menawarkan versi yang lebih baik dari produk atau servis yang akan dibeli oleh konsumen. Produk atau servis yang dipromosikan biasanya produk atau item tambahan yang lebih mahal yang dapat menaikkan value pembelanjaan secara keseluruhan.

Upselling biasanya menjadi bagian dari perjalanan pembeli di mana mereka sudah menambahkan sesuatu ke keranjang belanja mereka atau sudah hampir bayar dan jadi punya perilaku lebih reseptif terhadap usaha penjualan di menit-menit akhir. Konsumen biasanya sudah riset produknya, mereka mungkin sudah mempertimbangkan upgrade atau menambah item yang seharusnya meningkatkan kemungkinan mereka untuk akhirnya memutuskan beralih ke versi lebih baik itu di menit terakhir.

Marketer sering menggunakan taktik ini dalam campaign untuk menghasilkan lebih banyak penjualan.

Perbedaan Cross Selling dan Upselling

Sebenarnya upselling dan cross selling adalah dua taktik yang mirip. Selain itu juga keduanya bertujuan untuk meningkatkan profit perusahaan meskipun dengan cara yang berbeda. Upselling menaikkan revenue dengan menjanjikan level produk yang lebih tinggi, sedangkan cross selling melakukan hal serupa dengan menyarankan untuk membeli lebih banyak produk.

Perbedaan antara dua teknik ini juga terletak pada intensi konsumen. Ketika pembeli menambah item yang merupakan bagian dari teknik cross selling, mereka tidak punya intensi untuk membeli item tambahan tersebut sebelumnya. Setelah penjual menyarankan untuk membeli lebih, konsumen mungkin jadi mempertimbangkan menambah item karena mereka cocok dengan barang yang sudah atau hendak dibeli sebelumnya.

Upselling menyerukan hasrat konsumen untuk membeli sesuatu. Penjual menawarkan untuk check out produk yang punya kualitas lebih baik dan hanya itu saja sudah.

Ringkasnya, upselling adalah teknik meng-upgrade belanjaan yang sudah ada sedangkan cross selling adalah menambah barang untuk dibeli.

Pibcxj52M61XARgyfhmPHI 4zQNgVEtHAtQSqYcCW71hP3PaOO3xymiqchMz AJvqfs23pb8W8och00hRse5OAdqIQ8JaVEY6OdPaNzehuD4BAzJNHK Oe5UM6 xjaazBxkM2jdaRhtYpnabRoEjyRMyb24JmUNslQP7F3R5reBWBCUIVVvm GkdamR
Sumber: tranzzo.com 

Contoh Cross selling dan Upselling

Berikut beberapa contoh cross selling dan upselling yang sudah diterapkan di banyak bisnis.

Cross Selling

  • McDonald’s

Saat Anda pergi ke McDonald’s untuk menikmati makan siang atau hanya sekedar ingin menikmati makanan ringan, Anda pasti sering menemui teknik cross selling ini. Misalnya Anda memesan cheeseburger, sudah pasti Anda juga akan ditawari untuk memesan French fries sekaligus. Kemudian jika Anda memesan menu nasi ayamnya, Anda pasti akan ditawari untuk memesan minuman juga seperti soda atau lemon tea.

  • Maybelline

Jika Anda ke gerai Maybelline untuk membeli maskara, Anda pasti juga akan ditawari untuk membeli beberapa item lainnya seperti eyeliner, lipstik, eyeshadow, dan item make up lainnya dari Maybelline.

Upselling

  • Starbucks

Ketika Anda memesan minuman kesukaan Anda di Starbucks, Anda pasti sudah tidak asing dengan penawaran untuk melakukan upsize. Misalnya Anda memesan Caramel Macchiato ukuran tall, pasti Anda sudah tidak asing dengan penawaran seperti “mau upgrade Caramel Macchiato-nya ke cup grande sekalian kak?”

  • HP

HP adalah manufaktur PC internasional yang cukup terkemuka. Ketika konsumen membeli sebuah perangkat PC atau laptop dari mereka, Anda akan menemui teknik upselling seperti penawaran berbagai macam bentuk garansi dan rencana proteksi. Mereka bahkan memasukkan indikator visual untuk menggerakkan konsumen ke rencana yang lebih komprehensif.

Bagaimana CRM Mendukung Fungsi Cross Selling dan Upselling?

Software CRM bisa membantu Anda untuk memperoleh detail data kustomer dan data penjualan. Dengan memahami data penjualan yang sudah ada, Anda bisa memprediksi perilaku kustomer Anda di masa mendatang. Software CRM juga bisa merekam interaksi antara konsumen dengan tim penjualan yang tentu bisa dimanfaatkan untuk memprediksi strategi upselling atau cross selling yang akan digunakan. 

Hal pertama yang perlu dilakukan yaitu memilah konsumen dengan CRM sehingga mereka akan lebih bisa menerima penawaran upselling dan cross selling Anda. Dengan data yang ada, Anda bisa membuat persona pembeli untuk konsumen Anda yang akan membantu untuk memahami tujuan dan kebutuhan mereka. Hal tersebut juga dapat menunjukkan produk atau jasa mana yang bisa Anda upsell atau cross-sell.

Selain itu, penting juga untuk memonitor perjalanan konsumen sehingga dapat menunjukkan waktu yang tepat untuk menerapkan teknik upselling atau cross selling. Semua hal itu bisa dilakukan dengan menggunakan software CRM seperti Sidig. 

Supaya CRM Anda menyediakan data lengkap dan akurat dari hubungan bisnis Anda dan aktivitas yang terhubung dengan mereka, Anda perlu mengotomatiskan praktik sederhana CRM, melacak trend hubungan, dan mendorong kerja tim yang lebih kolaboratif untuk mendapatkan kesempatan-kesempatan mengeksekusi cross selling dan upselling pada bisnis Anda.

Kesimpulan

Jadi mana yang lebih baik, cross selling atau upselling? Kembali lagi ke perilaku kustomer Anda dan jenis bisnis Anda. Pada dasarnya keduanya bisa sekali digunakan untuk meningkatkan revenue bisnis Anda dengan perencanaan strategi yang matang dan penerapan yang tepat. Untuk informasi lebih lanjut tentang aplikasi CRM guna mendukung strategi upselling dan cross selling yang sedang Anda rencanakan, kunjungi blog Sidig dan temukan artikel yang sedang Anda cari di sana.

Strategi Distribusi Amazon

Strategi Distribusi Amazon

Saat mendengar Amazon, pasti yang terbayangkan adalah sebuah perusahaan e-commerce besar. Perusahaan multinasional asal Amerika ini berbasis teknologi dan berfokus pada e-commerce, cloud computing, digital streaming, dan artificial intelligence. Amazon menjadi salah satu perusahaan yang sangat berpengaruh terhadap perekonomian dunia dan menjadi salah satu brand bernilai tinggi di antara para kompetitornya seperti Alibaba, Oracle, Microsoft, Google, dan sebagainya.

Banyak yang bisa dipelajari dari cerita sukses Amazon, salah satunya yaitu tentang strategi distribusi Amazon. Penasaran, kan, pasti kira-kira strategi distribusi Amazon seperti apa hingga bisa sesukses itu. Mari kita bahas lebih lanjut strategi distribusi Amazon, siapa tahu Anda bisa mengadaptasinya untuk bisnis Anda. Simak artikel ini sampai habis, ya. 

Tentang Amazon

Yuk, sedikit lebih mengenal sejarah berdirinya Amazon. Pada tahun 1994, Jeff Bezos membuat Amazon di garasinya dengan nama awal Cadabra. Tahun 1995 bisnisnya mulai beroperasi sebagai toko buku online dan lalu kemudian dari Cadabra berganti nama menjadi Amazon yang terinspirasi dari sungai Amazon dan mempunyai moto “get big fast.” Perusahaan garapan Jeff Bezos ini bermarkas besar di Seattle, Washington.

Sekarang Amazon sudah sangat berkembang pesat dan memperluas bisnisnya ke beberapa industri; termasuk grocery, fashion, dan sudah membuka pergudangan yang sangat besar di seluruh negara. Dikenal sebagai ritel online terbesar di dunia dan penyedia cloud service terkemuka, Anda bisa mengunjunginya di Amazon.com.

Perusahaan ini menjadi sebuah perusahaan yang menjalankan bisnis berbasis teknologi dan internet, berfokus pada penyedia layanan e-commerce, cloud computing, digital streaming, dan layanan artificial intelligence (AI). Bisa dibilang Amazon adalah perusahaan ikonik electronic commerce (e-commerce).

Layanan Amazon

Amazon menawarkan layanan jasa dan produk yang sangat luas di beberapa area seperti retail, technology consumer, subscription service, digital content, Amazon Web Service (AWS), Amazon AI services, dan Amazon privately owned brands. Detailnya adalah sebagai berikut:

  • Retail

Amazon Marketplace, Amazon Fresh, Amazon Vine, Woot, Zappos, Merch by Amazon, dan Amazon Handmade.

  • Consumer Technology

Amazon Kindle, Amazon Fire tablet, Amazon Fire TV, Amazon Alexa, Amazon Echo, Amazon Echo Dot, Amazon Echo Show, dan Amazon Astro.

  • Subscription Service

Amazon Prime, Amazon Prime Video, Amazon Drive, Twitch Prime, dan Amazon Music Prime.

  • Digital Content

Amazon Pay, Amazon Music Unlimited, Kindle Store, dan Amazon Appstore for Android.

  • Amazon Web Service (AWS)

S3, Amazon Simple Queue Service (SQS), Amazon EC2, Amazon S3 Glacier, AWS Identity dan Access Management (IAM), dan Amazon Redshift.

  • Amazon AI Services

Amazon SageMaker, Amazon Lex, Amazon Polly, Amazon Rekognition, AWS DeepLens, Alexa Voice Service, Amazon Transcribe, Amazon Translate, dan Alexa Skills Kit.

  • Amazon Privately Owned Brands

AmazonBasics, Amazon Elements, Mama Bear, Presto!, Amazon Essentials, Happy Belly, dan Goodthreads.

Anak Perusahaan Amazon

Mulai dari bidang kesehatan hingga hiburan, Amazon sudah menjadi perusahaan multipel yang menjalankan bisnisnya di berbagai sektor dari waktu ke waktu. Berikut daftar jajaran akuisisi dan anak perusahaan Amazon:

  • IMDb

IMDb diakuisisi oleh Amazon di tahun 1998 dan merupakan database paling populer di seluruh dunia untuk perfileman, TV, selebriti, video game, dan streaming online content.

  • Audible

Audible diakuisisi oleh Amazon tahun 2008 dan merupakan penyedia buku dan konten spoken audio.

  • Zappos

Amazon mengakuisisi ritel sepatu dan pakaian online ini di tahun 2009.

  • Twitch

Twitch dibeli oleh Amazon pada tahun 2014. Twitch adalah platform streaming media sosial dan video game.

  • Whole Foods

Amazon mengakuisisi toko bahan pangan organik, makanan, dan minuman ini pada tahun 2017.

  • Ring

Amazon mengambil alih perusahaan smart home dan home security ini di tahun 2018.

  • Zoox

Perusahaan kendaraan otonom, robotik, dan transportasi ini diakuisisi sepenuhnya dengan kepemilikan sebagai anak perusahaan oleh Amazon di tahun 2020.

  • Metro-Goldwyn-Mayer

Amazon mengakuisisi studio filem dan TV ini pada tahun ini yaitu pada Maret 2022.

Strategi Sistem Distribusi Amazon

Model bisnis Amazon mengikuti strategi distribusi baik B2C dan juga B2B. Platform e-commerce Amazon berhadapan langsung dengan konsumen, menyediakan jutaan produk untuk milyaran pengguna di seluruh dunia. Platform e-commerce Amazon juga digunakan oleh bisnis-bisnis lain yang disebut sebagai toko pihak ketiga untuk menjual produk mereka sendiri di Amazon.

Model Distribusi Hybrid Amazon

  • Pihak Pertama E-commerce Amazon

E-commerce milik Amazon adalah sebuah bisnis B2C, yang menargetkan milyaran konsumen di seluruh dunia. E-commerce B2C bekerja untuk mendapatkan angka. Singkatnya, e-commerce B2C mempunyai margin profit yang ketat dalam jangka pendek, yang digunakan kembali oleh Amazon untuk membesarkan operasionalnya. Bisnis ini berotasi pada variasi produknya yang luas, harga rendah, dan pengiriman yang sangat cepat. Puncaknya, setelah beberapa tahun, Amazon akhirnya sudah menambahkan Prime untuk memfasilitasi konsumen dengan pengiriman gratis.

  • Platform Pihak Ketiga Amazon

Platform pihak ketiga milik Amazon adalah bagian dari e-commerce yang menaungi penjual-penjual lainnya. Platform pihak ketiga ini memfasilitasi mereka untuk menjual produknya di Amazon. Bisnis ini melingkupi ekosistem bisnis yang bergabung dengan platform Amazon untuk menguatkan bisnis penjualan mereka. Penjual pihak ketiga dapat memilih untuk menjual di Amazon dan mengurus fulfillment (Fulfillment by Amazon).

Dalam hal ini, Amazon hanya akan memotong sedikit dari revenue sebagai biaya distribusi. Atau, mereka bisa memutuskan untuk meningkatkan inventaris Amazon. Dalam hal ini, penjual tidak harus menyimpan inventaris apapun, yang mana akan dikirimkan secara langsung ke Amazon dan Amazon yang akan mengurus fulfillment-nya. Penjual hanya akan mengambil sedikit potongan dari keseluruhan revenue karena Amazon yang akan mengurus baik inventaris, distribusi, dan juga fulfillment.

Belajar dari Amazon, sangatlah penting untuk mempunyai strategi sistem distribusi sehingga bisnis berjalan dengan baik dan lancar, sekaligus dapat juga meningkatkan revenue perusahaan. Untuk solusi urusan distribusi pada bisnis Anda, serahkan saja ke Sidig.

Yuk, segera jadwalkan live demo bersama Sidig.

Optimasi Rantai Pasok Bisnis dengan SCM

Optimasi Rantai Pasok Bisnis dengan SCM

Dalam proses bisnis terdapat aktivitas-aktivitas yang krusial dalam alurnya. Untuk memproduksi suatu barang, tentu saja dibutuhkan bahan baku. Supaya bahan baku atau material produksi bisa sampai ke tangan produsen, maka diperlukan pemasok atau supplier bahan baku tersebut.

Dalam mata rantai bisnis, setiap prosesnya penting untuk dikelola. Strategi supply chain atau mata rantai pasok merupakan hal paling krusial demi lancarnya proses bisnis dari alur bahan mentah yang berasal dari supplier hingga menjadi barang jadi dan sampai ke tangan konsumen.

Oleh karena itu, SCM atau Supply Chain Management dibutuhkan untuk mengelola mata rantai pasok. SCM (Supply Chain Management) mengurus seluruh alur produksi barang maupun jasa, mulai dari komponen mentah hingga pengiriman akhir produk ke konsumen. Dalam menjalankan strategi SCM (Supply Chain Management), sebuah perusahaan membuat sebuah jaringan supplier yang menggerakkan produk sepanjang proses dari material mentah hingga ke pihak-pihak yang berinteraksi langsung dengan user.

Apa itu Supply Chain?

Supply chain dapat diartikan sebagai mata rantai pasok. Dalam kegiatan bisnis, supply chain memiliki penjelasan lebih dalam yaitu sebagai proses secara menyeluruh dari pembuatan dan penjualan produk-produk komersial, termasuk setiap tahapan dari alurnya yaitu dari pemasokan material atau bahan dan proses manufaktur barang yang juga melalui proses distribusi dan penjualan.

Lingkup supply chain meliputi sebuah jaringan dari semua organisasi, individu, sumber daya, aktivitas, transportasi, peralatan, dan juga teknologi yang terlibat dalam proses produksi dan penjualan sebuah produk ataupun jasa. Supply chain menjabarkan semua proses dari pengiriman sumber bahan baku dari supplier sampai ke produsen hingga akhirnya dikirim dan sampai ke tangan user atau konsumen.

Tipe-tipe Supply Chain

Proses-proses yang terdapat di dalam supply chain cukup kompleks dan banyak bagian yang terus bergerak sehingga mengelolanya pun tidak mudah. Supply chain disederhanakan menjadi tiga jenis sebagai berikut:

1. Upstream Supply Chain

Upstream supply chain melingkupi semua aktivitas yang berkaitan dengan bagian-bagian dari supplier, yaitu pihak yang menyediakan sumber bahan mentah dan mengirimkannya ke manufaktur. Proses upstream termasuk pengadaan bahan mentah untuk produksi barang dan biaya operasional produksi. Perusahaan yang berfokus pada upstream supply chain dapat memastikan kualitas produk jadi, melacak level inventaris, meminimalisir kekurangan material mentah, dan meningkatkan kepuasan konsumen akhir.

2. Downstream Supply Chain

Downstream supply chain merujuk pada aktivitas setelah proses manufaktur, seperti aktivitas distribusi produk ke toko ritel atau e-commerce dan penjualan ke konsumen akhir. Operasional downstream supply chain termasuk juga pemenuhan pemesanan produk dan pengiriman. Alur informasi dari downstream supply chain berakhir pada konsumen akhir. Perusahaan yang berfokus pada downstream supply chain dapat meningkatkan pengalaman konsumen dan menimba keuntungan yang kompetitif. Pengiriman produk yang tepat waktu adalah kunci dari proses downstream.

3. Internal Supply Chain

Internal supply chain yaitu aktivitas dalam mata rantai pada sebuah perusahaan yang menyediakan material produksi dan pabrikasi. Proses ini melibatkan fungsi-fungsi multipel di dalam perusahaan seperti penjualan, produksi, dan distribusi. Performa perusahaan akan meningkat dengan integrasi dari fungsi-fungsi tersebut.

Apa itu SCM (Supply Chain Management)?

SCM (Supply Chain Management) adalah proses pengelolaan pengiriman produk mulai dari bahan mentah yang diolah hingga menjadi produk jadi ke konsumen. Termasuk di dalamnya itu perencanaan suplai, perencanaan produk, perencanaan demand, penjualan dan perencanaan operasional, dan manajemen suplai. SCM (Supply Chain Management) mengoptimasi pembuatan produk dan alur dari sumber bahan mentah lalu ke proses manufaktur, logistik, dan akhirnya pengiriman ke konsumen akhir.

Pengelolaan supply chain ini meliputi perencanaan dan eksekusi proses yang terintegrasi yang dibutuhkan untuk mengelola pergerakan material, informasi, hingga modal keuangan dalam segala aktivitas yang secara luas melibatkan perencanaan demand, suplai, produksi, manajemen inventaris dan gudang penyimpanan, transportasi atau logistik, dan pengembalian produk yang cacat produksi atau berlebih. SCM (Supply Chain Management) bertumpu pada strategi bisnis, spesialisasi software, dan kolaborasi kerja.

Dengan proses yang ekspansif dan kompleks, setiap pihak mulai dari supplier hingga manufaktur dan seterusnya harus berkomunikasi dan bekerja sama untuk menciptakan efisiensi, mengelola risiko, dan beradaptasi pada perubahan dengan cepat.

Tujuan dari SCM 

Ada beberapa objektif dari SCM (Supply Chain Management) yang penting untuk dipahami. SCM (Supply Chain Management) mempunyai tujuan yaitu menyelaraskan suplai dan demand secara efektif dan efisien. Selain itu juga untuk menghindari berbagai macam masalah yang dapat muncul selama proses integrasi supply chain. Masalah yang sering muncul terkait dengan pengadaan sumber daya, pengelolaan akuisisi, manajemen supplier, manajemen customer relationship, identifikasi masalah dan meresponnya, dan juga manajemen risiko.

Objektif strategik dari SCM (Supply Chain Management) adalah untuk memenangkan kompetisi pasar atau paling tidak untuk bertahan di pasar. Untuk memenangkan kompetisi, sebuah bisnis harus mampu menyediakan produk yang benar-benar bagus dan layak. Supply chain harus bisa menyediakan produk yang terjangkau, berkualitas, dan bervariasi. Jika produk bisa memenuhi demand dan ekspektasi konsumen, bisnis Anda akan dengan mudah memenangkan kompetisi pasar.

Mengapa SCM (Supply Chain Management) Penting bagi Sebuah Bisnis?

Sistem SCM (Supply Chain Management) yang efektif dapat meminimalisir biaya, limbah, dan waktu pada siklus produksi. Standar industri yaitu menjadi just-in-time supply chain di mana penjualan ritel secara otomatis memberikan sinyal penambahan pesanan kepada manufaktur. Stok ritel kemudian bisa ditambahkan hampir secepat produk tersebut terjual. Satu cara untuk meningkatkan proses ini adalah menganalisa data dari supply chain partner untuk melihat di bagian mana yang membutuhkan perhatian dan peningkatan lebih jauh.

Dengan menganalisa data dari supply chain partner, SCM dapat berjalan efektif dan dapat meningkatkan value siklus supply chain.

  • Mengidentifikasi potensi masalah. Ketika seorang konsumen memesan produk melebihi kemampuan manufaktur untuk menyediakan produk tersebut, pembeli bisa jadi komplain terkait pelayanan yang buruk. Melalui analisis data, manufaktur jadi bisa mengantisipasi kekurangan tersebut sebelum pembeli kecewa.
  • Mengoptimasi harga secara dinamik. Produk yang musiman mempunyai masa umur yang terbatas. Pada akhir musimnya, produk-produk ini biasanya dijual dengan diskon yang besar. Maskapai penerbangan dan hotel misalnya, biasanya akan menyesuaikan harga secara dinamik untuk memenuhi permintaan. Dengan menggunakan software analitik, teknik prediksi yang serupa dapat meningkatkan margin.
  • Meningkatkan alokasi inventaris yang menjanjikan. Tool dari software analitik membantu mengalokasikan sumber daya dan menjadwalkan kerja berdasarkan prediksi penjualan, pemesanan barang, dan pengiriman material mentah. Manufaktur dapat mengkonfirmasi tanggal pengiriman produk ketika pemesanan dilakukan. Hal ini dapat secara signifikan menghindarkan dari kesalahan pemenuhan pesanan.

Kelebihan dan Kekurangan SCM (Supply Chain Management)

SCM (Supply Chain Management) mempunyai beberapa kelebihan yang mendatangkan keuntungan bagi sebuah bisnis sehingga berdampak pada profit yang lebih tinggi dan brand image yang lebih baik serta keuntungan kompetitif yang lebih baik juga. Beberapa kelebihannya yaitu:

  • Kemampuan yang lebih baik untuk memprediksi dan memenuhi permintaan konsumen
  • Visibilitas supply chain yang lebih baik, manajemen risiko dan sifat prediktif
  • Mengurangi proses yang tidak efisien dan limbah produk
  • Kualitas produk meningkat
  • Meningkatkan sustainability, baik dari sudut pandang yang bersifat sosial maupun lingkungan
  • Memangkas biaya yang tidak diperlukan
  • Meningkatkan cash flow
  • Logistik lebih efisien

Selain mempunyai kelebihan, SCM (Supply Chain Management) juga mempunyai beberapa kekurangan dalam penerapannya. Setiap bisnis dalam menjalankan SCM (Supply Chain Management) tentu akan berhadapan dengan beberapa tantangan yang merupakan kekurangan dari penerapan SCM (Supply Chain Management) itu sendiri jika dalam pelaksanaannya kurang mempunyai strategi yang tepat, yaitu seperti berikut:

  • Ketersediaan bahan baku yang tidak terpenuhi jika mempunyai supplier yang tidak berkomitmen
  • Banyak pihak terlibat dan memiliki kepentingan yang beragam
  • Ketersediaan produk yang tidak pasti jika kapasitas pabrik tidak dimaksimalkan
  • Stok produk yang berlebihan jika proses distribusi terhambat
  • Permintaan produk tidak pasti karena kurangnya pemasaran produk

Perbedaan Logistik dan Supply Chain

SCM (Supply Chain Management) memetakan strategi dan aktivitas-aktivitas yang dimasukkan ke dalam perencanaan, penyediaan sumber daya, produksi, dan pengiriman barang, dan juga mengatasi masalah pengembalian barang. Logistik berfokus pada produk yang tepat berada di tempat yang tepat pula dan di waktu yang tepat, dan  bagaimana produk-produk tersebut sampai di sana.

Kunci perbedaan antara SCM (Supply Chain Management) dan logistik yaitu terletak pada jangkauan dan fokusnya. Kunci perbedaan di antara mereka termasuk:

  • Logistik adalah aktivitas-aktivitas di dalam SCM (Supply Chain Management). SCM melakukan berbagai aktivitas seperti produksi dan perencanaan inventaris, perencanaan kerja, manajemen material dan fasilitas, manufaktur dan pengiriman barang dan jasa.
  • SCM (Supply Chain Management) bertujuan untuk meningkatkan proses untuk mencapai keuntungan yang kompetitif, sedangkan logistik menekankan pada pemenuhan kebutuhan konsumen dan ekspektasi mereka.
  • Logistik fokus pada pengiriman barang yang efisien dan efektif ke konsumen.
  • SCM mengontrol pengembangan bahan baku mentah hingga menjadi produk jadi yang berpindah dari supplier ke produsen lalu ke gudang kemudian ke ritel dan akhirnya ke konsumen.

Berikut perbedaan SCM (Supply Chain Management) dan logistik yang dijabarkan dalam tabel:

LogistikSCM (Supply Chain Management)
Logistik merupakan satu aktivitas di dalam SCMSCM meliputi aktivitas-aktivitas yang cukup luas; termasuk perencanaan, penyediaan sumber material, manajemen kerja dan fasilitas, produksi dan pengiriman barang dan jasa
Logistik berfokus pada pengiriman barang secara efisien dan efektif ke konsumenSCM menargetkan performa operasional yang lebih tinggi yang akan memberikan bisnis sebuah keuntungan yang kompetitif
Logistik berpusat pada pemindahan dan transportasi barang dalam sebuah perusahaanSCM memangku pengembangan material mentah menjadi barang jadi yang berpindah dari produsen ke manufaktur. Barang-barang tersebut di distribusikan ke ritel atau langsung ke konsumen

Cara Kerja SCM (Supply Chain Management) pada Bisnis

Ada lima komponen dari sistem SCM (Supply Chain Management) yang dijelaskan sebagai berikut:

1. Perencanaan

Perencanaan dan pengelolaan semua sumber daya sangat penting untuk memenuhi permintaan konsumen atas produk atau jasa sebuah bisnis. Ketika supply chain sudah ditentukan dan tetap, tentukanlah metrik untuk mengukur apakah supply chain efisien, efektif, memperlihatkan value ke konsumen dan memenuhi tujuan perusahaan.

2. Penyediaan Sumber Daya

Pilihlah supplier untuk menyediakan barang dan jasa yang dibutuhkan untuk membuat produk-produk bisnis Anda. Lalu, tetapkan proses untuk memonitor dan mengelola hubungan supplier. Kunci prosesnya termasuk pemesanan, penerimaan, pengelolaan inventaris dan otorisasi pembayaran supplier.

3. Manufaktur

Aturlah dengan baik semua aktivitas yang dibutuhkan untuk menerima bahan baku mentah, manufaktur produk, menguji kualitas, mengepak untuk pengiriman dan menjadwalkan pengiriman.

4. Pengiriman dan Logistik

Koordinasikan pesanan konsumen, penjadwalan pengiriman, pengiriman muatan, invoice untuk konsumen, dan penerimaan pembayaran.

5. Pengembalian

Buatlah sebuah jaringan atau alur untuk mengambil kembali barang yang cacat produksi, kelebihan produk, atau produk yang tidak diinginkan.

Penerapan dan Contoh SCM (Supply Chain Management)

Perusahaan umumnya mempunyai sebuah sistem SCM (Supply Chain Management) yang melibatkan beberapa pihak yang berkaitan dalam satu alur melalui 6 langkah, yaitu bahan baku mentah, supplier, manufaktur, distribusi, ritel, dan konsumen.

lqmOFof267EtTqR atH8s6B7Tomzv 7y eJzneMU7aQHO8Fz4NuetecCC OOI s0fYCWvt6xuSypZYQ8pIc X99pgRRknfq

Sumber: www.techtarget.com

Penjelasannya sebagai berikut:

  • Bahan Baku mentah

Langkah pertama yang merupakan tahap awal supply chain adalah penyediaan bahan baku mentah yang sesuai dengan kriteria dan standar perusahaan. Harus dipastikan ketersediaan bahan baku mentah memenuhi permintaan perusahaan sehingga tidak menimbulkan masalah pada proses selanjutnya.

  • Supplier

Bahan baku mentah yang sudah memenuhi syarat perusahaan dikirim ke supplier yang kemudian dijual kembali dalam jumlah besar ke berbagai perusahaan yang membutuhkan untuk produksi barang atau jasa.

  • Manufaktur

Sesampainya di manufaktur, bahan baku mentah tersebut diolah hingga menjadi produk jadi. Kemudian dilakukan pula pengujian produk sehingga lolos uji kualitas, lalu produk jadi yang lolos uji kualitas akan didistribusikan ke konsumen.

  • Distributor

Distributor bertugas mendistribusikan produk ke seluruh area target. Biasanya distributor tidak menyalurkan barang langsung ke konsumen akhir, namun ke pedagang ritel terlebih dahulu.

  • Ritel

Pengusaha ritel memegang kendali penuh untuk urusan pemasaran produk. Pihak ritel ini yang langsung berinteraksi dengan konsumen akhir dan menjual produknya langsung ke konsumen akhir.

  • Konsumen

Setelah melalui 5 langkah sebelumnya, produk akhirnya pun sampai di konsumen akhir. Pihak konsumen ini yang kemudian akan menentukan demand produk selanjutnya. Setelah berada di tangan konsumen, siklus supply chain ini kembali berputar mulai dari bahan baku mentah untuk produksi.

Dalam penerapannya, SCM memiliki 4 model yaitu model make-to-stock terintegrasi, model build-to-order, model penambahan berkelanjutan, dan model perkumpulan channel. Contohnya, Starbuck menerapkan model make-to-stock terintegrasi. Model ini melacak permintaan konsumen secara real-time, sehingga inventaris bisa diproses dan distok ulang secara efisien. Data yang didapat secara real-time juga dapat digunakan untuk mengembangkan dan memodifikasi rencana produksi dan penjadwalan. Starbuck menggunakan beberapa channel distribusi ― tidak hanya menjual minuman kopi ke konsumen tetapi juga menjual biji kopi dan juga bubuk kopi untuk bisnis yang lebih besar lintas industri. Starbuck sukses mengintegrasi semua sumber dari permintaan dengan menggunakan sistem informasi otomatis untuk manufaktur. Sistem ini melingkupi perencanaan, manufaktur, penjadwalan, dan kontrol inventaris.

Peran Software SCM

Beberapa masalah bisa muncul dalam pelaksanaan SCM. SCM harus bisa mengontrol area jaringan distribusi mulai dari jumlah, lokasi, supplier fasilitas produksi, pusat distribusi, pergudangan, dan konsumen. Untuk melaksanakan proses supply chain ini, dibutuhkan sebuah strategi sehingga bisa lebih efektif dan efisien. Oleh karenanya, dibutuhkan teknologi terintegrasi atau software sehingga proses distribusi dapat berjalan dengan lancar. Dengan bantuan software distribusi, informasi harga distribusi, inventaris, dan juga masalah transportasi bisa terlaksana dengan lancar. Salah satu software distribusi yang bisa Anda gunakan demi kelancaran proses SCM perusahaan Anda yaitu Sidig. Pelajari selengkapnya dengan mengunjungi https://sidig.id/

Strategi Meningkatkan Revenue dari Scheduled Maintenance

Strategi Meningkatkan Revenue dari Scheduled Maintenance

Aktivitas maintenance penting dilakukan demi menjaga performa peralatan kerja perusahaan. Supaya semua peralatan dapat terus berfungsi dengan baik dan memiliki masa pakai yang lama, maka sebaiknya dilakukan scheduled maintenance sehingga prosesnya dapat berjalan secara sistematis.

Jika semua peralatan kerja dapat berfungsi dengan optimal, maka kinerja karyawan pun menjadi lebih produktif sehingga proses produksi berjalan dengan baik dan lancar, mendukung meningkatkan revenue perusahaan. Selain itu, scheduled maintenance dapat menghindarkan downtime tak terduga yang biasanya akan memakan biaya yang mahal untuk mengatasinya. Scheduled maintenance juga dapat menghindarkan perusahaan dari biaya reparasi maupun penggantian alat atau onderdil peralatan kerja. Dengan terpangkasnya biaya-biaya ongkos tersebut, secara tidak langsung revenue perusahaan tetap terjaga dan tidak terpotong.

Bagaimana Cara Scheduled Preventive Maintenance Bisa Meningkatkan Penghematan?

Preventive maintenance (PM) berfokus pada pencegahan masalah sebelum kerusakan terjadi. Termasuk didalamnya tugas-tugas seperti pembersihan, pelumasan, penyesuaian, perbaikan, dan penggantian sebuah bagian. Setiap tugas tersebut dilakukan untuk menjaga peralatan bekerja pada kondisi prima untuk mencegah downtime dan perbaikan reaktif. Preventive maintenance yang terjadwal tentu akan mengoptimalkan proses pengelolaan dan pemeliharaan peralatan kerja.

Berikut benefit dari scheduled preventive maintenance dilihat dari bagaimana sistem baru dan cara berpikir ini dapat menaikkan revenue perusahaan:

1. Mengurangi Downtime

Dalam proses produksi, istilah ‘time is money’ adalah benar adanya. Setiap kali mesin dimatikan untuk perbaikan, Anda kehilangan sejumlah uang karena proses produksi tidak bisa berjalan yang artinya bisnis sedang tidak menghasilkan. Scheduled PM secara drastis mengurangi downtime karena tujuannya secara keseluruhan adalah mencegah downtime.

2. Meningkatkan Efisiensi Operasional

Karena peralatan secara rutin dipelihara secara terjadwal, mereka bisa bekerja dengan kondisi optimal setiap saat. Ketika mesin bekerja lebih efisien, mereka tidak harus menggunakan banyak energi dan sumber daya, artinya penghematan telah tercapai.

3. Mengurangi Risiko Pemeliharaan Reaktif yang Mahal

Ketika sebuah peralatan rusak tiba-tiba; Anda harus mengeluarkan biaya ekstra untuk tim pemeliharaan, waktu ekstra untuk mendiagnosa masalah, dan biaya ekstra bagian atau onderdil tertentu. Dengan PM yang terjadwal, pengecekan rutin dan pemeliharaan terencana bisa membantu menghindari perbaikan besar dan mahal.

4. Meningkatkan Masa Pakai Peralatan

PM juga dapat meningkatkan umur peralatan. Ketika semuanya terbaharui dan berfungsi dengan benar, Anda bisa memaksimalkan masa pakai mesin dan peralatan. Keawetan mesin dan peralatan adalah investasi.

5. Memperbaiki Layanan Customer Service

Kegagalan mesin dapat menunda proses produksi sehingga dapat menunda pengiriman barang juga. Hal ini bisa dihindari dengan PM. Konsumen akan senang ketika Anda bisa konsisten menyediakan produk berkualitas, servis on-time, dan pelayanan yang cepat sehingga mereka akan memberi ulasan lebih baik, lebih banyak referral, dan lebih banyak penjualan terjadi tentunya. 

Mengimplementasikan Program Scheduled Preventive Maintenance

Cara terbaik untuk memulai PM yaitu dengan riset opsi software PM. Ketika Anda memilih software PM yang tepat, transisi akan berjalan lebih lancar dan mudah tentunya.

Setelah Anda mendapatkan software PM, langkah selanjutnya yaitu mengatur jadwal PM semua peralatan satu persatu. Cara ini akan menghindarkan kewalahan. Meskipun ada beberapa biaya awal ketika Anda memulai, namun strategi ini dapat menyelamatkan uang perusahaan dalam jangka panjang.

Pengaruh Service and Maintenance pada Revenue

Revenue dari service and maintenance bisa membuat sebuah kontribusi penting untuk keseluruhan revenue. Service and maintenance bisa juga berkontribusi untuk revenue di masa mendatang dengan mengijinkan perusahaan untuk menghubungi konsumen dalam proses penjualan produk. Menyediakan service and maintenance berkualitas untuk konsumen dapat membantu menaikkan kepuasan dan loyalitas konsumen, meningkatkan kemungkinan perusahaan untuk mempertahankan konsumen dan menjaga level tinggi pembelian berulang.

Rencana Peningkatan Layanan After-sale

Layanan after-sale adalah sebuah sumber penting untuk revenue dan profit bisnis. Layanan after-sale membantu membangun hubungan yang kuat dengan pelanggan dan terbukti menjadi pembeda yang efektif bisnis Anda. Rencana peningkatan after-sale perusahaan sebaiknya berkonsentrasi pada mengidentifikasi layanan baru yang penting untuk konsumen Anda, mengurangi biaya pengiriman, memastikan kualitas produk, dan menaikkan revenue dan profit dari layanan after-sale.

Sebuah all-in-one platform yang terintegrasi, yang bisa dimanfaatkan untuk proses scheduled preventive maintenance dan sekaligus juga menyediakan layanan after-sale merupakan solusi cerdas untuk bisnis perusahaan Anda. Aplikasi Sidig hadir menjawab tantangan tersebut dengan berbagai macam fitur yang mendukung kelancaran berbagai macam proses bisnis khususnya scheduled PM dan layanan after-sale. Yuk, segera gunakan Sidig untuk membantu meningkatkan revenue bisnis Anda.

Strategi Upselling untuk Optimasi Penjualan

Strategi Upselling untuk Optimasi Penjualan

Setiap bisnis pasti tujuan utamanya adalah penjualan. Semakin banyak produk/jasa terjual, maka semakin tinggi revenue yang didapatkan. Jika produk/jasa bisa terjual sesuai target atau bahkan melampaui target, hal tersebut bisa menjadi indikator bisnis berjalan dengan baik dan sukses.

Beberapa strategi bisa diupayakan dalam rangka meningkatkan penjualan seperti strategi upselling. Dengan menerapkan salah satu strategi marketing yaitu strategi upselling, perusahaan bisa mendapat keuntungan lebih tinggi dari penjualan produk sekaligus membuat produk terjual semakin banyak. Strategi upselling memungkinkan perusahaan untuk memaksimalkan penjualan dengan memberikan rekomendasi-rekomendasi tertentu kepada konsumen supaya konsumen tersebut berbelanja lebih banyak lagi.

Apa itu Upselling?

Upselling adalah sebuah teknik penjualan di mana perusahaan menawarkan konsumen layanan yang lebih mahal atau mendorong mereka untuk menambah jumlah items yang dibelanjakan sehingga perusahaan menghasilkan revenue lebih tinggi. Sederhananya, strategi upselling membuat konsumen menyadari bahwa perusahaan Anda menawarkan layanan di level yang berbeda dari lainnya.

Contohnya jika Anda menjalankan bisnis cleaning, Anda bisa upsell ke konsumen dengan mengajak mereka untuk upgrade dari paket basic cleaning ke paket yang lebih premium seperti paket deep cleaning.

Namun, perlu diingat bahwa upselling bukanlah taktik penjualan dengan pemaksaan yang agresif. Konsep upselling lebih ke membantu para konsumen. Upselling membantu mereka dengan menawarkan solusi yang lebih baik dari dilema awal mereka.

Bagaimana Cara Kerja Strategi Upselling?

Bagaimana caranya menerapkan strategi upselling ini? Yuk, kita bahas. Ada enam teknik upselling bisa Anda gunakan untuk upsell layanan bisnis Anda:

1. Menawarkan level berbeda yang saling berkaitan untuk setiap paket layanan

Anda bisa menawarkan 3 level paket yang saling berkaitan, misalnya paket level gold, silver, dan bronze yang setiap level merupakan integrasi atau turunan dari paket lainnya secara berurutan. Hal tersebut dapat membantu upselling dengan memberikan opsi kepada konsumen dengan value lebih. Dengan membandingkan 3 level berbeda, konsumen akan mendapat visual yang jelas dari value setiap paket. Pastikan memvariasikannya sebagai opsi dari low, medium, hingga high-level untuk mengakomodasikan budget yang berbeda-beda. Semakin tinggi tingkatannya, semakin lengkap paket yang ditawarkan dan semakin mahal.

2. Menyarankan untuk upgrade atau menambah items

Biarkan kustomer tahu tentang layanan tambahan atau upgrade yang Anda tawarkan. Misalnya, untuk jasa layanan cleaning Anda bisa beri opsi untuk beberapa upgrade sebagai tambahan layanan seperti opsi tambahan semprot anti serangga atau opsi tambahan parfum ruangan. Penambahan opsi ini bukan untuk diskon tapi supaya konsumen tahu keberadaan tambahan tersebut.

3. Menginformasikan semua layanan ke konsumen

Terkadang inti dari upselling adalah membiarkan kustomer tahu tentang semua layanan yang ada dan layanan baru. Untuk mengedukasi mereka mengenai semua layanan yang Anda tawarkan, Anda bisa terus update di media sosial dan website maupun menggunakan email marketing.

4. Memperluas layanan untuk mengatasi permasalahan klien

Mencari tahu kebutuhan konsumen dengan riset pasar adalah cara yang baik untuk memulai. Apakah ada layanan lain yang bisa Anda tawarkan yang menguntungkan konsumen? Apakah ada konsumen yang menanyakan layanan yang belum tersedia di bisnis Anda? Dengan memenuhi kebutuhan konsumen, layanan Anda tentu bisa semakin tumbuh dan berkembang.

5. Melibatkan tim dalam hal upgrade konsumen

Tim adalah wajah sebuah bisnis. Mereka berkesempatan kontak langsung dengan kustomer dan tempat bisnis berlangsung. Hal ini membuat mereka potensial untuk mengidentifikasi kesempatan upselling. Motivasi tim dengan lebih melibatkan mereka untuk upselling dengan cara beri pelatihan untuk upsell, sediakan peralatan yang mumpuni, dan tawarkan insentif upselling.

6. Menggunakan contoh kehidupan nyata untuk membuat penjualan

Menunjukkan contoh-contoh yang nyata ke kustomer dapat memvalidasi upsell. Anda bisa menggunakan testimoni, foto, dan bukti lainnya yang bisa meyakinkan konsumen bahwa add-on upgrade yang ada valuable untuk mereka.

Strategi Upselling dengan Menawarkan Preventive Maintenance

Preventive maintenance (PM) memberi peluang konsumen untuk punya value lebih baik untuk investasi mereka. Layanan PM biasanya memberikan perlindungan tambahan terhadap barang. Hal tersebut membantu konsumen menjaga produk yang mereka beli. Penawaran PM ini bisa masuk ke dalam strategi upselling Anda ketika konsumen membeli produk Anda. Misalnya paket paling murah tidak termasuk PM, sedangkan untuk mendapatkan layanan PM, mereka harus upgrade ke level paket yang lebih tinggi yang tentu lebih mahal harganya. Keuntungan lainnya selain menaikkan revenue dari upselling yaitu mendapatkan kepuasan pelanggan sekaligus retensi kustomer. Aplikasi Sidig merupakan platform multifungsi yang bisa mendukung strategi upselling bisnis Anda dengan menawarkan preventive maintenance dan layanan after-sale. Pelajari selengkapnya di https://sidig.id/

WeCreativez WhatsApp Support
Kontak kami melalui Whatsapp
👋 Halo,ada yang bisa kami bantu?