Benarkah Reward Bisa Menciptakan Loyalitas Konsumen?

Benarkah Reward Bisa Menciptakan Loyalitas Konsumen?

Saat ini, banyak sekali brand dari berbagai sektor yang menawarkan beragam reward kepada audiens atau calon kustomer. Misalnya banyak perusahaan maskapai penerbangan yang menawarkan macam-macam deals penerbangan dengan cukup sering, kemudian juga perusahaan telekomunikasi yang menurunkan tarif mereka untuk mendapat volume lebih. Banyak sekali perusahaan yang rela membakar banyak uang dan mengimplementasikan program reward.

Mengejutkannya, ternyata program reward membuahkan hasil yang memuaskan bagi perusahaan. Bisa dibilang mereka tidak sia-sia membakar uang karena revenue yang didapat melebihi biaya yang dikeluarkan untuk membakar uang. Jadi, jawabannya adalah ya, program reward bisa membangun loyalitas konsumen, dan banyak perusahaan membuktikan bahwa loyalitas konsumen sangatlah berharga. Kenapa bisa begitu? Ayo, kita gali lebih dalam.

Aturan Reward

Contoh terbaik dari membangun loyalitas konsumen melalui value sharing biasanya ditemukan di bisnis kecil yang masih tradisional. Sudah bertahun-tahun, pedagang dan restoran memahami tujuan yang lebih luas dari program reward yang efektif. Mereka selalu mencoba mengenali konsumen secara personal dan sering memberi bonus ke mereka berupa layanan spesial atau perhatian khusus. Misalnya, restoran memberi pelanggan minuman atau dessert spesial gratis. Mereka memahami bahwa apa yang diberikan menaikkan value kustomer dan menjadikan mereka sebagai pelanggan loyal; dan pelanggan yang loyal akan sangat menguntungkan dari waktu ke waktu.

Namun, seiring bisnis menjadi besar maka akan semakin sulit untuk mengenali konsumen dengan lebih detail sehingga value sharing antara perusahaan dan konsumen pun bisa jadi hilang. Perusahaan-perusahaan besar mengupayakan untuk menaikkan market share, skala, dan efisiensi; mencoba mengimbangi kerugian aspek itu dengan menggunakan database marketing atau teknis riset pasar untuk menargetkan konsumen yang berharga. Untuk membayar investasi itu, perusahaan harus mengingat prinsip value sharing yang efektif berikut.

1. Tidak Semua Pelanggan Setara

Menyadari keuntungan dari loyalitas artinya mengakui bahwa tidak semua kustomer itu setara. Dalam rangka memaksimalkan loyalitas dan keuntungan, sebuah perusahaan harus memberikan value terbaiknya ke konsumen terbaik mereka. Konsumen yang berpotensi seharusnya menikmati keuntungan yang dibuat oleh perusahaan. Hasilnya, mereka akan menjadi lebih loyal dan menguntungkan.

Misalnya, perusahaan mempertimbangkan untuk menawarkan harga khusus ke pelanggan setia atau pelanggan tetap. Dengan tidak menyamaratakan konsumen, tentu konsumen yang loyal akan merasa punya hubungan lebih personal dengan perusahaan yang akan memberi keuntungan jangka panjang bagi perusahaan itu sendiri.

2. Value untuk Company Harus Melebihi Value yang Diberikan untuk Konsumen

Kebanyakan perusahaan rilis program reward tanpa mengevaluasi kebutuhan mereka sendiri dan perekonomian dari sebab-akibat. Mereka belum memikirkan kaitan antara value yang disampaikan ke konsumen dan value yang dibuat untuk perusahaan. Sebuah program reward seharusnya memberikan sesuatu, jika tidak maka laba hanyalah ilusif namun biaya adalah nyata.

Kesalahan yang sering terjadi adalah perusahaan memberikan diskon yang sama rata ke semua konsumen tidak peduli seberapa sering mereka mengunjungi atau berbelanja atau seberapa banyak mereka membeli. Hal seperti itu berbeda dari cara bisnis konvensional seperti restoran tradisional di mana pemilik restoran hanya memberi penawaran khusus terhadap pelanggan loyal saja.

3. Perilaku Konsumen Harus Mengarah ke Value Sharing

Rewarding — perilaku yang sangat menarik tampak seperti doktrin yang terlihat jelas dari desain program, tapi marketplace penuh dengan perusahaan yang memberi reward ke omongan daripada aksi nyata. Reward yang hanya ditujukan untuk kustomer baru dan bersifat umum sebenarnya tidak menguntungkan perusahaan dalam jangka panjang. Promosi seperti itu sering kita temui sekarang ini dan seharusnya dipertimbangkan lagi. Bisnis tidak akan dapat laba dengan konsumen yang bersifat chronic switcher. Lebih baik menawarkan kartu member sehingga konsumen akan menjadi pelanggan dan tentu loyalitas terbangun.

4. Perspektif Jangka Panjang itu Penting

Promosi satu kali menghabiskan biaya yang lumayan besar dan nyatanya tidak menghasilkan loyalitas. Promosi seperti itu mengubah perilaku konsumen namun tidak mempertahankan mereka untuk jangka panjang.

5. Penawaran Harus Menargetkan Konsumen yang Atraktif

Desain program reward yang baik dapat menargetkan dan menarik segmen konsumen yang berharga. Di waktu yang bersamaan, hal tersebut dapat menghemat uang perusahaan dengan memangkas konsumen yang terbukti kurang valuable bagi perusahaan. Program tersebut bisa dikatakan sebagai self-selecting dan individually correcting.

Strategi Menjalankan Loyalty Program

Sebuah program reward adalah strategi yang kompetitif dan harus sesuai kriteria tertentu. Dalam melaksanakan strategi loyalty program, hendaknya pertimbangkan hal-hal berikut:

1. Apakah loyalty program sejalan dengan kemampuan perusahaan?

Jangan hanya karena kustomer Anda membutuhkan sesuatu yang bukan ranah bisnis Anda lalu Anda memaksakan untuk mengembangkan kemampuan membuat produk tersebut. Program reward tidak berada di kehampaan, program reward harus terkoneksi sebaik mungkin dengan strategi dan kemampuan.

2. Akankah konsumen tertarik dan menganggap program tersebut penting?

Banyak program reward dan loyalitas di marketplace sekarang ini yang membeberkan pemahaman terbatas mengenai kebutuhan dan keinginan konsumen. Dari perspektif konsumen, 5 elemen menentukan value program: cash value, pilihan redemption, value aspirasional, relevansi, dan kenyamanan.

3. Apakah kemitraan membuat program semakin kompetitif?

Untuk membuat value sharing bekerja, value yang disampaikan perusahaan ke konsumen terbaiknya harus kompetitif dalam 5 dimensi: cash value, pilihan, aspirasi, relevansi, dan kenyamanan.

Setelah mengetahui bahwa loyalitas konsumen merupakan aspek krusial bagi keberlangsungan perusahaan, Anda harus memikirkan dan mempersiapkan program loyalitas dengan matang supaya berjalan efektif. Salah satu cara untuk mewujudkannya yaitu melibatkan keberadaan teknologi, aplikasi berbasis software.

Salah satu aplikasi untuk loyalty program adalah Sidig. Sidig merupakan aplikasi CRM yang mumpuni untuk mendukung terlaksananya loyalty program sebuah brand dengan berbagai fitur andalan. Ingin tahu lebih banyak tentang Sidig? Kunjungi website-nya di https://sidig.id/

9 Masalah Distribusi beserta Solusinya

9 Masalah Distribusi beserta Solusinya

Setiap bisnis pasti mempunyai tantangannya masing-masing, tidak mungkin semua bisnis berjalan lancar tanpa ada hambatan-hambatan selama berjalan. Namun, tantangan-tantangan bisnis tersebut justru menjadi sebuah sarana untuk semakin menguatkan sistem manajemen bisnis Anda, dan membuat perusahaan bergerak untuk mencari solusi dan menyiapkan beragam langkah mitigasi untuk menyelesaikan permasalahan bisnis perusahaan.

Salah satu bagian penting dari kegiatan ekonomi yaitu aktivitas distribusi. Distribusi adalah proses yang memungkinkan produk atau jasa dari produsen bisa sampai dan diterima oleh konsumen. Tentu dalam proses distribusi itu sendiri, terdapat juga beragam masalah distribusi yang dihadapi oleh perusahaan. Perusahaan harus mencari solusi dengan cepat dalam menghadapi masalah distribusi yang terjadi. Akibat dari munculnya masalah distribusi yaitu kerugian perusahaan karena produk tidak sampai ke konsumen sehingga dapat memangkas revenue perusahaan.

Ada 9 masalah distribusi yang akan dipaparkan dalam artikel ini dan tentu akan dibahas juga solusinya. Untuk mempelajari masalah distribusi beserta penyelesaian masalahnya, simak artikel ini sampai habis, ya.

Permasalahan yang Sering Terjadi dalam Proses Distribusi Produk dan Solusinya

1. Customer Service

Dari pertama kali kontak dengan sales perwakilan, perusahaan sudah mengumpulkan informasi penting terkait preferensi konsumen tentang produk, riwayat transaksi, dan komunikasi follow-up. Perusahaan juga mungkin melacak ulasan konsumen, komplain, dan pengembalian produk.

Data konsumen yang diterima operasional sangatlah banyak jumlahnya. Jika perusahaan tidak bersiap untuk mengumpulkan dan menganalisa informasi, akan menjadi sulit untuk mengelola inventaris untuk mencukupi permintaan konsumen.

Solusi untuk permasalahan ini adalah aplikasi CRM yang dapat membantu perusahaan untuk mengelola sejumlah besar data dan menganalisanya. Salah satu rekomendasi aplikasi CRM adalah Sidig dengan berbagai macam fitur yang terintegrasi sehingga dapat melancarkan proses distribusi produk Anda.

2. Pelacakan Inventaris

Karyawan mungkin menempatkan box jauh di belakang ketika barang yang lebih baru di tempatkan di depannya. Pengiriman menjadi kacau di warehouse karena barang tercampur dan kurang terorganisir dengan baik. Tanpa pelacakan inventaris yang efektif, perusahaan menjadi tidak tahu berapa banyak produk yang tersedia di setiap lokasi warehouse. Jika pekerja gagal mencatat inventaris atau menempatkannya di lokasi yang tepat, manajer bisa saja mengira stok produk habis. Dengan begitu konsumen akhirnya akan memesan di perusahaan kompetitor.

Anda bisa menggunakan sistem manajemen inventaris supaya operator warehouse tahu di mana letak dan keberadaan setiap produk. Sistem ini termasuk penggunaan barcode dan scanner untuk memindai informasi produk ketika pengiriman datang dan produk ditempatkan di rak.

3. Lonjakan E-commerce

Lonjakan e-commerce B2B dan B2C sudah mempengaruhi industri B2B, menuntut distributor untuk mengevaluasi ulang strategi bisnis mereka dan mempertimbangkan untuk menyertakan e-commerce ke channel mereka.

Beberapa sudah secara reaktif mengikutsertakan pilihan e-commerce ini ke channel mereka, memperbaiki tampilan bisnis menjadi lebih menarik dan ramah. Langkah ini menciptakan sebuah kesempatan untuk organisasi-organisasi yang sudah mendesain ulang ruang online mereka dan menyertakan solusi e-commerce ke platform mereka yang tampak menarik untuk pembeli.

4. Ritel Menuntut Kondisi yang Lebih Baik

Ritel skala besar sudah memperluas penawaran produk mereka dan layanan pengiriman, membebankan penalti pada distributor yang terlambat pengirimannya dan tidak bisa memenuhi permintaan barang karena kehabisan stok. Distributor grosir mungkin juga kena denda karena memberikan informasi produk yang tidak akurat. Oleh karena itu, banyak perusahaan sudah berinvestasi pada peningkatan teknologi yang digunakan dan pelatihan tambahan untuk karyawan dalam rangka memenuhi standar operasional yang baru.

5. Manufaktur Menjual Langsung ke Toko

Dalam rangka menghadapi kenaikan permintaan mengenai harga yang lebih terjangkau dan waktu pengiriman dari toko, banyak manufaktur yang tidak menggunakan distributor melainkan langsung menjual produk ke ritel besar. Hal ini dapat diatasi dengan menciptakan sistem distribusi yang terautomasi sehingga tidak ada keterlambatan pengiriman dan permasalahan lainnya. Solusi lainnya adalah menciptakan sistem penggabungan sehingga muncul sistem distribusi nasional.

6. Informasi Tidak Real-Time

Manajemen distribusi atau manajemen inventaris sangat penting untuk bisnis pembuatan produk dan pendistribusian barang jadi. Detail informasi mengenai waktu pengiriman, ketersediaan barang di gudang, jumlah barang yang dikirim, dan sebagainya sangat penting untuk diinformasikan secara real-time ke divisi atau karyawan penanggung jawab.

Era teknologi menjawab tantangan ini karena banyak software aplikasi untuk manajemen distribusi dan manajemen inventaris yang terintegrasi yang dapat melakukan berbagai tanggung jawab seperti yang disebutkan, khususnya pendataan dan penyampaian informasi secara real-time.

7. Transportasi Pengiriman

Dalam pelaksanaan kegiatan distribusi, masalah transportasi pengiriman bisa dibilang adalah masalah umum yang sering terjadi. Kesulitan dalam mengukur efisiensi transportasi yang digunakan untuk pengiriman barang menjadi tantangan lumrah yang sering dihadapi distributor. Untuk mengatasinya, dibutuhkan sebuah sistem untuk mengatur transportasi atau manajemen transportasi. Sistem pengelolaan transportasi akan sangat membantu kelancaran proses pengiriman sehingga dapat menghindarkan dari keterlambatan pengiriman barang ke konsumen.

8. Data Stok Tidak Akurat

Permasalahan informasi stok yang tidak akurat menjadi salah satu permasalahan terbesar dalam kegiatan distribusi. Data persediaan stok seharusnya terus diperbarui setiap hari supaya menjaga keakuratannya. Jika tidak hati-hati dan teliti, bisa saja terjadi selisih barang dan tentu menimbulkan permasalahan yang besar. Sistem manual sangat rawan dengan permasalahan seperti ini misalnya kesalahan ketik atau bisa saja terjadi kecurangan. Hal ini akan berimbas pada kerugian perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan perlu memanfaatkan software aplikasi distribution management system (DMS) sehingga informasi lebih akurat dan terjamin tanpa rekayasa.

9. Kesulitan Mengontrol Promosi

Permasalahan terakhir yang bisa terjadi dalam proses distribusi produk adalah adanya kesulitan untuk mengatur diskon dan promosi di lapangan. Biasanya industri distribusi punya tarif yang beragam sesuai kebutuhan klien. Ada klien yang masih baru, namun ada juga klien yang sudah menjadi pelanggan tetap. Sehingga, skema promosi dan diskon harus dipikirkan juga secara matang. Misalnya untuk pelanggan lama, tentu distributor sebaiknya membuat strategi promosi atau potongan harga.

Jika tugas ini dilakukan secara manual dengan jumlah klien ratusan, maka akan sangat melelahkan dan bisa juga terjadi eror. Di sinilah fitur yang terdapat dalam aplikasi distribusi berperan penting untuk mengkonfigurasikan promosi yang fleksibel secara mudah.

Baca Juga: Sistem Manajemen Distribusi Perusahaan

Dari segala permasalahan distribusi yang mungkin terjadi dan menjadi kendala kegiatan distribusi bisnis Anda, dapat disimpulkan bahwa keberadaan distribution management system (DMS) atau sistem manajemen distribusi sangatlah penting dan menjadi solusi tepat proses distribusi produk bisnis Anda. Software aplikasi DMS yang dapat terintegrasi dengan berbagai macam layanan akan sangat membantu dan memudahkan prosesnya seperti untuk urusan manajemen aset dan inventaris bahkan layanan purna jual. Sidig menawarkan solusi cerdas dengan berbagai macam fitur yang mendukung kelancaran distribusi seperti invoicing, data pembelian, alokasi produk, invite store, dll. Pelajari tentang Sidig selengkapnya di https://sidig.id/

Model Distribusi Sales yang Sesuai Kebutuhan Bisnis

Model Distribusi Sales yang Sesuai Kebutuhan Bisnis

Distribusi adalah salah satu aktivitas ekonomi yang krusial untuk kelancaran proses penjualan produk atau jasa perusahaan Anda. Distributor bertanggung jawab untuk menyalurkan barang atau jasa dan menyampaikannya dengan baik ke konsumen.

Strategi distribusi dibutuhkan untuk mengetahui model distribusi sales yang cocok untuk bisnis perusahaan Anda. Manajemen distribusi dituntut untuk mampu menentukan model distribusi sales supaya menjaga keberlangsungan proses produksi dan produk sampai diterima oleh konsumen dalam keadaan baik. Oleh karena itu, model distribusi sales yang dipilih secara tidak langsung dapat mempengaruhi kenaikan revenue perusahaan. Dalam menentukan model distribusi sales pun tidak boleh asal pilih, namun disesuaikan dengan kebutuhan bisnis Anda. Dengan strategi model distribusi sales yang tepat, produk dapat tersalurkan ke konsumen dengan baik dan siklus mata rantai pemasok dapat terus berjalan dengan lancar, sehingga dapat menaikkan proses produksi yang memberi keuntungan bagi produsen.

Apa saja model distribusi sales dan bagaimana cara menentukan model distribusi sales yang tepat untuk bisnis Anda? Cari tahu di sini, ya.

Apa itu Strategi Distribusi Produk?

Dalam sebuah proses bisnis, tim produksi akan menentukan pendekatan mana yang paling strategik untuk mengirimkan produknya ke konsumen. Tentu dalam melakukan kegiatan distribusi ini tidak dilakukan secara asal, tapi menggunakan suatu strategi distribusi agar prosesnya berjalan lancar dan maksimal.

Sebuah strategi distribusi produk meliputi semua proses dan metode bisnis yang ditetapkan untuk mengeksekusi pendekatan tersebut.

Apa itu Model Distribusi Sales?

Kata ‘distribusi’ mungkin memunculkan sebuah gambaran di dalam pikiran kita tentang truk dan muatan-muatan besar, tetapi lebih dari itu distribusi juga berkaitan dengan penjualan dan marketing. Model distribusi sales adalah metode untuk menjual produk dan jasa ke target klien.

Tidak mungkin sebuah produk atau jasa akan terjual dengan sendirinya ke konsumen. Tentu bisnis Anda perlu mendapatkan perhatian klien, Anda perlu mengatur langkah supaya konsumen melihat nilai produk Anda, mengantongi kepercayaan klien yang potensial, dan memastikan klien menerima produk dengan baik dan mereka merasa puas dengan pembelian yang mereka lakukan.

Jenis-jenis Model Distribusi Produk

Ada beberapa model distribusi sales konvensional. Kunci dari pemilihan model distribusi sales yang tepat untuk bisnis Anda adalah tipe konsumen yang Anda targetkan.

1. Menjual produk langsung ke konsumen dengan dibantu proses penjualan.

Ini merupakan metode yang umum digunakan oleh tim penjualan; menghubungi konsumen yang punya potensi atau merespon pengusulan yang dibuat oleh marketing atau ads campaign. Model distribusi sales ini bisa digunakan baik untuk B2B atau B2C.

2. Menjual produk langsung ke konsumen dengan sebuah proses pembelian otomatis.

Metode ini bisa digunakan untuk perusahaan di berbagai industri karena pembelian secara online menjadi wajar dan lumrah saat ini. Bahkan sektor yang dulunya biasa membutuhkan pertemuan yang lama dengan orang sales seperti sales mobil sekarang sudah mengadopsi pendekatan sales yang terotomatisasi. Model distribusi sales ini cocok untuk sebagian besar produk konsumer maupun produk B2B.

3. Distribusi resale melalui pemilihan dealer berizin.

Beberapa perusahaan menginginkan jangkauan pasar daripada tim sales in-house mereka sendiri, atau sebuah proses sales terotomatisasi dapat memberikannya. Dengan begitu, perusahaan memilih untuk menjual produk melalui grup kecil dari reseller atau dealer berizin.

Model distribusi sales ini bisa digunakan ketika bisnis mempercayai reseller dapat menjual produk secara efektif dengan tetap melindungi reputasi brand dan ketika bisnis mempercayai grup kecil dari dealer bahwa mereka dapat menjangkau lebih banyak konsumen.

4. Distribusi resale yang terbuka untuk semua reseller.

Jika tim produksi ingin menjangkau sebanyak mungkin pasar dengan cepat, mereka mungkin memilih untuk mengundang semua reseller untuk menawarkan produk mereka ke konsumen. Model distribusi sales ini bisa diaplikasikan ketika perusahaan menjual atau menawarkan tipe produk baru mereka di mana kompetitor sedang menjual produk baru sejenis di waktu bersamaan.

Langkah Menyusun Strategi Distribusi

Berikut langkah-langkah untuk menyusun strategi distribusi untuk mengembangkan tim produksi bisnis Anda:

  1. Pelajari perilaku target konsumen, bagaimana mereka berbelanja dan membeli produk
  2. Pelajari kompetitor
  3. Hitung berapa biaya setiap model distribusi yang diaplikasikan
  4. Pertimbangkan setiap pengaruh dari pendekatan pada perkembangan produk
  5. Jangan melupakan reputasi brand

Menentukan Model Distribusi Sales untuk Bisnis

Jenis model distribusi sales yang dipilih bergantung pada beberapa faktor seperti tipe produk, industri, dan model bisnis. Sehingga distribusi produk tidak terbatas hanya bisa menggunakan satu strategi saja seperti penjualan hanya melalui swalayan saja, namun sekarang semakin terbuka kesempatan untuk produsen menjual produk melalui outlet ritel atau juga menjualnya secara langsung ke konsumen dengan sistem online.

Baca Juga: Sistem Manajemen Distribusi Perusahaan

Perusahaan tidak terbatas hanya pada satu strategi distribusi sales saja. Mempunyai beberapa strategi berbeda adalah cara terbaik untuk mengoptimalkan pendapatan dan sebagai investasi. Bahkan setelah Anda memilih dan mengimplementasikan model distribusi sales pada bisnis Anda, Anda tetap harus terus meninjau dan mengevaluasi hasilnya sehingga Anda dapat memaksimalkan usaha untuk keberhasilan bisnis Anda.

Menjadi sebuah strategi juga untuk beralih ke sistem yang terdigitalisasi dalam melaksanakan kegiatan distribusi bisnis Anda. Untuk mempelajari lebih lanjut software aplikasi CRM guna memudahkan proses distribusi, yuk, klik di sini.

Rekomendasi Software Aplikasi Distribusi Barang untuk Solusi Distribution Management System (DMS)

Rekomendasi Software Aplikasi Distribusi Barang untuk Solusi Distribution Management System (DMS)

Distribution management system (DMS) adalah aspek penting dalam bisnis sebuah perusahaan karena menyangkut kegiatan distribusi barang di mana perusahaan menyalurkan produk ke konsumen akhir dan produk harus diterima konsumen dalam keadaan baik.

Dalam rangka mewujudkan proses distribusi yang maksimal, distribution management system (DMS) berperan penting untuk mengelola jalannya kegiatan distribusi tersebut. Keberadaan teknologi (DMS) tentu menjadi solusi apik yang bisa diaplikasikan dalam manajemen distribusi. Software distribusi barang akan membantu dan memudahkan jalannya proses distribusi produk perusahaan Anda. Software DMS mempunyai banyak fitur yang mendukung banyak proses di dalam jalannya distribusi itu sendiri. Perusahaan bisa memanfaatkan aplikasi DMS untuk memaksimalkan distribusi produk. Tentu keberadaan software aplikasi menjadi jawaban dari permasalahan distribusi sebuah perusahaan.

Dalam artikel ini akan dibahas beberapa rekomendasi software aplikasi DMS yang cocok untuk bisnis Anda.

Apa itu Distribution Management System (DMS)?

Pasar yang bermunculan semakin besar dan lebih kompleks dengan ribuan distributor, jutaan outlet, dan milyaran transaksi yang berpotensi. Manufaktur harus mengelola jaringan yang makin meluas dari distributor besar maupun kecil di saat yang bersamaan dengan mereka juga memikirkan mitra saluran pemasaran produk mereka. Bagaimana manufaktur bisa mengelola semuanya dengan data terbatas dan wawasan tentang pasar? Bagaimana mereka mengontrolnya? Bagaimana mereka bisa mengelola orang dan promosi ketika meminimalisir biaya pengeluaran? Dan, yang paling penting, bagaimana cara melakukan semua hal tersebut dengan mudah, efektif, dan efisien?

Jawabannya adalah teknologi, melalui sebuah sistem yang dikenal dengan distribution management system (DMS). Distribution management system tidak hanya mengontrol alur supply chain, tapi juga berfungsi untuk mengelola promosi, meningkatkan produktivitas, inventaris dan proses penjualan, klaim ke distributor, dan masih banyak lagi. Sederhananya, DMS adalah sebuah sistem berbasis software yang mengelola segala proses penjualan dan aktivitas distribusi sebuah bisnis.

Mengapa DMS dibutuhkan?

Distribusi secara langsung mempengaruhi laba perusahaan. Untuk memahami pentingnya kehadiran DMS dalam sebuah bisnis, maka perlu meninjau dan menelaah tantangan yang dihadapi oleh saluran penjualan sebuah bisnis. Sebuah perusahaan penting untuk mengembangkan teknik penjualan dan marketing yang bervariasi. Beberapa permasalahan bisa terjadi, seperti:

  • Kebanyakan distributor berskala kecil dan tidak terorganisir.
  • Untuk mencapai daerah pelosok, dibutuhkan beberapa level mata rantai distribusi, menimbulkan biaya ekstra.
  • Tidak ada real-time data pemesanan produk, inventaris atau klaim, sehingga bisa mengakibatkan kurang atau kelebihan stok.

DMS mengontrol dan memonitor jaringan distribusi, sehingga masalah-masalah seperti di atas dapat dihindari. DMS menyimpan semua data dan informasi terkait klien, stok, dan penjualan yang mudah diakses, dianalisis, dan dibuat laporannya.

Fitur CRM berkaitan erat dalam distribution management system sehingga kepuasan konsumen pun terjamin. Dengan kata lain, DMS dapat meminimalisir usaha kerja, biaya operasional, dan waktu pengerjaan tugas yang artinya meningkatkan produktivitas dan sales jadi lebih baik.

Manfaat Distribution Management System (DMS) untuk Bisnis

DMS memberikan banyak manfaat untuk kelancaran dan peningkatan revenue bisnis Anda, beberapa keuntungan yang didapatkan dengan menggunakan software DMS dalam aktivitas distribusi produk, yaitu:

  1. DMS menjaga segala sesuatunya teratur dan tetap pada jalur.
  2. Memudahkan pembeli karena segala informasi tersedia di satu platform.
  3. Mengurangi kemungkinan eror terkait waktu, lokasi, atau kuantitas pengiriman produk.
  4. Manajemen waktu yang lebih baik.
  5. Memangkas biaya operasional.
  6. Memonitor inventaris dengan lebih baik.
  7. Pemrosesan dokumen kontrak dan approval dapat dilakukan dengan cepat.
  8. Meningkatkan efisiensi dan akurasi layanan yang ditawarkan ke konsumen.

Rekomendasi Software Aplikasi DMS

Keberadaan teknologi tentu menjadi solusi untuk menjawab tantangan permasalahan proses distribusi bisnis Anda. Selain software DMS itu sendiri, software CRM pun juga turut serta menunjang kinerja DMS. Aplikasi DMS mempunyai berbagai macam fitur yang sangat memudahkan segala aktivitas dalam supply chain, khususnya dalam kegiatan distribusi. Berikut rekomendasi aplikasi yang dapat Anda gunakan untuk melancarkan segala proses bisnis di perusahaan Anda:

1. Sidig

Sidig merupakan all-in-one platform untuk solusi bisnis Anda yang mempunyai fitur utama untuk mengoptimalkan layanan purna jual dan manajemen garansi produk. Selain itu, aplikasi ini juga merupakan aplikasi CRM dan bisa terintegrasi dengan aplikasi DMS yang berfungsi untuk mengelola aset dan inventaris serta mempunyai layanan web apps for distributor yang mencakup berbagai fitur seperti invite store, data pembelian, invoicing, dan alokasi produk

2. Qontak

Aplikasi Sales CRM Qontak dari Mekari mempunyai banyak fitur yang dapat mempercepat penjualan sekaligus memberikan layanan pelanggan yang responsif. Fitur dalam aplikasi bisa disesuaikan sepenuhnya, mumpuni untuk aktivitas dan pelacakan KPI, bisa untuk mengelola database & akses, dan masih banyak fitur lainnya.

3. SimpliDOTS

Software aplikasi DMS ini berbasis cloud dan dirancang untuk mengelola proses distribusi agar efektif dan efisien. Dengan aplikasi ini, Anda dapat melakukan pembelian, penjualan, utang piutang, dan memonitor posisi karyawan di lapangan. Sistem dalam aplikasi ini juga sudah terintegrasi dan dapat terhubung dengan aplikasi lainnya.

4. EffiaSoft

EffiaSoft menjadi solusi berbagai sektor bisnis seperti ritel, makanan & minuman, distribusi, maskapai, bank, pengumpulan pajak, dan pemerintah. Aplikasi ini mempunyai fitur yang mendukung blockchain dalam proses ‘Just Billing’ yang membantu perusahaan mengoptimalkan dan mendefinisikan ulang proses bisnisnya.

5. SAP SD

Software yang merupakan modul fungsional terbesar ini mampu melakukan transaksi bisnis sehari-hari dan mengelola segala proses dari pemesanan produk hingga pengiriman. Selain itu, SAP SD juga punya fitur untuk aktivitas RFP (request for proposal), sales order, penentuan harga, warehousing, pengemasan, penagihan, manajemen risiko, dan pengiriman.

6. Hashmicro

Hashmicro merupakan solusi software ERP yang akan sangat bermanfaat untuk berbagai jenis bisnis dan industri. Hashmicro menyediakan berbagai macam solusi dalam satu aplikasi sehingga kegiatan ekonomi bisnis bisa berjalan lebih efektif dan efisien. Fitur di dalam aplikasi bisa disesuaikan mulai dari aktivitas CRM, inventaris, accounting, hingga supply chain. Disediakan juga produk tambahan yang bisa terintegrasi dengan produk Hashmicro yang lain seperti manajemen aset, barcode, hingga automasi marketing.

Mengenal Sistem Manajemen Distribusi Perusahaan

Mengenal Sistem Manajemen Distribusi Perusahaan

Aktivitas distribusi yang efektif adalah prinsip yang krusial karena prosesnya menjadi sebuah bagian yang terintegrasi dari supply chain dan manajemen inventaris. Kesuksesan distribusi melibatkan banyak proses pemindahan bagian-bagian dan berbagai metode yang mensyaratkan strategi manajemen distribusi yang kuat.

Manajemen distribusi menjadi sebuah pokok sistem yang dapat memperlancar jalannya bisnis perusahaan. Sejak dari lama, manajemen distribusi sudah menjadi tantangan sebuah bisnis.

Kenapa manajemen distribusi itu penting? Bisa saja hal berikut terjadi, bahan baku mentah sampai terlalu dini dan menjadi buruk atau kadaluwarsa sebelum mereka diolah. Atau, bisa juga produk-produk yang sudah jadi sampai terlalu lama, sehingga momentum jadi direnggut oleh kompetitor, mereka mengambil alih market share terlebih dulu. Untuk menghindari hal-hal semacam itu, maka dibutuhkan sebuah manajemen distribusi yang baik dan kuat.

Pengertian Distribusi

Apa yang Dimaksud dengan Kegiatan Distribusi?

Distribusi adalah salah satu hal utama dari kegiatan ekonomi selain produksi dan konsumsi. Kegiatan distribusi adalah proses penyaluran barang atau produk dari produsen ke konsumen.

Kemudian manajemen distribusi adalah sebuah proses yang digunakan untuk memantau pergerakan produk atau barang dari supplier ke manufaktur, grosir, atau ritel yang pada akhirnya sampai ke konsumen. Banyak sekali aktivitas yang terlibat dalam manajemen distribusi ini, seperti manajemen vendor bahan baku mentah, pengemasan, warehousing, inventaris, supply chain, logistik, dan terkadang juga blockchain.

Contoh Alur Distribusi

Berikut alur distribusi penyaluran barang dari produsen ke konsumen:

alur distribusi barang dari produsen ke konsumen

Berikut alur proses distribusi dari bahan baku mentah hingga akhirnya produk jadi sampai ke konsumen:

distribusi bahan baku ke konsuen

Pengertian Distribusi Menurut Para Ahli

Menurut Hall (2001) distribusi bisa diartikan sebagai sebuah aktivitas untuk mengirimkan produk ke pembeli setelah terjadi traksaksi penjualan. Kemudian, menurut Keegan (2003) distribusi sendiri adalah sebuah sistem yang menghubungkan manufaktur dan pelanggan, meliputi saluran konsumen dan saluran barang industri. Saluran konsumen yaitu menyalurkan produk ke orang-orang untuk digunakan sendiri, sedangkan saluran barang industri yaitu menyalurkan bahan baku atau produk ke manufaktur untuk digunakan dalam proses produksi atau operasional harian.

Selain itu, dari beberapa pernyataan para ahli lainnya dapat disimpulkan bahwa distribusi merujuk pada penyaluran atau penyebaran produk ke pasar skala besar sehingga konsumen mempunyai akses ke produk dan dapat membelinya. Hal tersebut bisa juga dipahami sebagai penempatan produk yang efektif yang menghasilkan laba bagi penjual karena transaksi pembelian yang dilakukan oleh kustomer mereka.

Perbedaan Distribusi dan Distributor

Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa distribusi adalah proses penyaluran atau penyebaran barang atau produk dari produsen ke konsumen. Sedangkan distributor adalah pihak yang melakukan proses distribusi. Sehingga distributor adalah orang atau perantara yang menyalurkan barang maupun produk dari produsen ke konsumen atau dari manufaktur ke pengecer (retailer).

Konsep Distribusi

Selain menyalurkan barang dari produsen ke konsumen, proses distribusi juga punya andil dalam hal pemasaran sehingga barang yang dihasilkan oleh produsen bisa terjual dengan segera ke kustomer.

Aktivitas distribusi melibatkan hal-hal seperti berikut:

  1. Sebuah sistem transportasi yang baik untuk mengangkut barang ke beragam area geografis.
  2. Sebuah sistem pelacakan yang baik sehingga barang yang tepat tersalurkan di waktu yang tepat dengan kuantitas yang tepat.
  3. Sebuah pengemasan yang baik, untuk menjaga barang dari kerusakan selama di dalam transportasi.
  4. Melacak lokasi di mana produk dapat ditempatkan, misalnya dengan pertimbangan kapasitas maksimal untuk membelinya.
  5. Melibatkan sebuah sistem untuk menarik barang dari pasar.

Mata Rantai Distribusi

mata rantai distribusi

Siklus rantai pasokan di atas menunjukkan bahwa mata rantai distribusi merupakan bagian pokok untuk menyalurkan bahan baku yang sudah diolah menjadi produk jadi yang akhirnya disampaikan ke konsumen.

Untuk lebih memahami mata rantai distribusi lebih detail, simak penjelasan-penjelasan selanjutnya dalam artikel ini.

Tujuan Distribusi

Sesuai dengan definisi dari kegiatan distribusi yang pada intinya adalah proses penyaluran atau penyebaran. Sehingga tujuan kegiatan distribusi adalah menyalurkan barang atau bahan baku mentah untuk diproduksi menjadi barang jadi dan akhirnya disampaikan ke konsumen akhir. Distribusi menjembatani penyaluran barang dari produsen ke konsumen akhir.

Saluran-saluran distribusi bertujuan untuk memastikan kuantitas produk yang tersedia tepat jumlah di lokasi yang benar dan di waktu yang benar. Apa yang membuat strategi distribusi unik relatif tergantung keputusan marketing lainnya yang mana hampir seluruhnya bergantung pada lokasi fisik.

Fungsi Distribusi

Jaringan distribusi tidak hanya berfungsi untuk menjembatani proses dari produsen ke konsumen saja. Ada banyak fungsi lain dari jaringan distribusi sebagai berikut:

1. Menyediakan ruang, waktu, dan kepemilikan

Sebuah jaringan distribusi digunakan untuk memberi ruang, waktu, dan kepemilikan peralatan. Mereka memastikan produk yang tersedia berada di tempat yang tepat, kemudian sampai tepat waktu, dan mempunyai kuantitas yang tepat.

2. Logistik dan distribusi fisik

Jaringan distribusi bertanggung jawab dalam hal penyimpanan, pengumpulan, penyortiran, dan transportasi produk dari produsen ke konsumen akhir.

3. Menciptakan efisiensi

Mengumpulkan berbagai macam jenis produk dan memecah beberapa ukuran barang menjadi ukuran skala lebih kecil adalah dua cara untuk menciptakan efisiensi. Ritel dan grosir membeli dengan jumlah yang sangat besar dari manufaktur yang kemudian menjualnya ke saluran lain atau ke konsumen untuk mengecernya. Mereka juga menjual berbagai macam produk di satu tempat sehingga memberi kenyamanan bagi konsumen karena konsumen tidak perlu pergi ke ritel lain untuk membeli produk lainnya.

4. Sebagai fasilitator

Jaringan distribusi juga menyediakan layanan pre-sale dan layanan post-purchase seperti maintenance, financing, jaringan koordinasi, diseminasi, dll.

5. Marketing

Jaringan distribusi bekerja dan termasuk dalam poin inti di mana strategi, khususnya strategi marketing perusahaan, dieksekusi. Mereka membantu manufaktur untuk menyampaikan pesan brand mereka dan keuntungan produk ke konsumen karena distributor adalah yang secara langsung kontak dengan konsumen akhir.

6. Berbagi risiko

Kebanyakan dari jaringan membeli barang jauh sebelum masuk pasar, mereka juga membagikan risiko terkait produk mereka dengan prosedur dan mengerahkan segala kemampuan untuk menjual produk.

Masalah Distribusi

Dalam sistem distribusi tentu ada berbagai macam masalah distribusi yang bisa saja dan mungkin terjadi. Berikut beberapa tantangan yang dihadapi distributor dalam proses distribusi:

1. Meningkatnya kompetisi dari manufaktur

Dengan meningkatnya sistem logistik yang efisien, manufaktur menjadi mungkin untuk menjual barang lebih banyak secara langsung ke konsumen akhir dan menghindari distributor. Lalu, penggabungan di banyak sektor manufaktur menciptakan manufaktur yang sangat besar dengan sistem distribusi nasional.

2. Ritel menuntut pengiriman yang cepat

Ritel-ritel yang besar biasanya memperluas target pemasaran, sehingga mereka memperketat deadline pengiriman dan membebankan denda yang tegas ke distributor yang telat mengirim produk.

3. Bergantung pada harga bahan bakar

Salah satu aspek penting dalam kegiatan distribusi yaitu tentang transportasi, sehingga secara tidak langsung bahkan bahan bakar juga jadi penentu laba perusahaan. Harga bahan bakar diesel mewakili porsi yang signifikan dari total biaya operasional. Banyak distributor menyerahkan biaya ini ke pemasok dalam bentuk biaya tambahan, namun beberapa perusahaan kecil mungkin tidak punya kemampuan ini.

4. Kerentanan untuk merubah harga

Perubahan harga yang kencang membuat distributor rentan untuk merubah nilai inventaris. Meskipun distributor berusaha untuk membatasi biaya pemasaran mereka dengan mematok harga produk berdasarkan persentase kenaikan harga, kompetisi membuat kenaikan nilai inventaris yang mahal menjadi mustahil ketika harga turun.

5. Pembelian tersentralisasi oleh konsumen secara besar-besaran

Kebanyakan pembelian sekarang ditangani oleh headquarter perusahaan daripada toko-toko regional. Pembelian yang tersentralisasi memungkinkan untuk mengeliminasi banyak distributor regional.

Selain permasalahan-permasalahan di atas, masih ada lagi berbagai tantangan lain yang di hadapi oleh perusahaan dalam pelaksanaan distribusi produknya.

Bentuk Distribusi

1. Distribusi langsung

Distribusi langsung yaitu distribusi barang/jasa yang dilakukan secara langsung, penyaluran barang langsung dari produsen ke konsumen akhir tanpa perantara. Contohnya pedagang sate ayam yang langsung menjual makanannya ke konsumen.

2. Distribusi semi langsung

Distribusi semi langsung adalah kegiatan distribusi dari produsen ke konsumen yang dilakukan melalui perantara yang merupakan bagian dari produsen. Contohnya yaitu restoran cepat saji yang menjual makanannya melalui layanan delivery dari restoran itu sendiri.

3. Distribusi tidak langsung

Kemudian, distribusi tidak langsung merupakan kegiatan distribusi dari produsen ke konsumen menggunakan beberapa perantara sebagai pihak ketiga seperti melalui agen, grosir, makelar, ritel, dsb. Contohnya pabrik rokok menjual produk rokoknya ke konsumen melalui grosir atau ritel terlebih dahulu.

Baca Juga: Model Distribusi Sales untuk Kebutuhan Bisnis

Contoh Distribusi

contoh distribusi

Kelancaran penyaluran barang/jasa dari produsen ke konsumen tentu karena andil dari distributor yaitu pihak yang melakukan distribusi. Aktivitas distribusi berguna untuk memastikan keberlangsungan produksi barang dan juga memastikan produk sampai dan diterima oleh konsumen dengan baik.

Ada tiga macam jenis distribusi dalam pelaksanaannya yaitu distribusi langsung, distribusi semi langsung, dan distribusi tidak langsung.

1. Contoh distribusi langsung

contoh distribusi langsung

Distribusi langsung yaitu penyaluran barang/jasa dari produsen langsung ke konsumen tanpa melalui pihak lain atau perantara. Produsen sendiri yang menyalurkan barang ke konsumen akhir.

Contoh dari distribusi langsung yaitu penjual makanan seperti mie ayam, bakso, nasi goreng, warteg, dll yang langsung menjual makanannya ke konsumen atau pembeli.

2. Contoh distribusi semi langsung

Contoh distribusi semi langsung

Kemudian distribusi semi langsung yaitu kegiatan penyaluran barang/jasa menggunakan perantara atau pihak lain yang merupakan bagian dari produsen itu sendiri seperti agen dari produsen atau toko milik produsen sendiri untuk menyampaikan barang/jasa ke konsumen.

Contoh dari distribusi semi langsung adalah pabrik kain yang menjual barang dagangannya melalui conventer. Atau produsen pakaian yang menjual baju-bajunya di toko miliknya sendiri.

3. Contoh distribusi tidak langsung

Distribusi tidak langsung adalah penyaluran barang/jasa melalui beberapa pihak ketiga atau beberapa perantara untuk menyampaikan barang/jasa kepada konsumen akhir. Distribusi tidak langsung memiliki 3 tipe seperti berikut:

One-level channel

Contoh distribusi one level channel

Distribusi one-level channel adalah di mana perusahaan tidak menjual produk mereka langsung ke konsumen. Perusahaan menjual produk mereka ke ritel, lalu pihak ritel lah yang menjual produk tersebut ke konsumen akhir.

Two-level channel

Contoh distribusi two level channel

Distribusi two-level channel adalah di mana perusahaan menjual produk mereka ke grosir. Kemudian grosir akan menjual produk tersebut ke ritel dan akhirnya barulah produk dijual oleh ritel ke konsumen akhir.

Three-level channel

contoh distribusi Three-level channel

Distribusi three-level channel mirip dengan two-level channel. Bedanya adalah channel ini menggunakan agen dan broker yang mewakili perusahaan untuk mengkontak dan membuat deal dengan grosir. Setelah transaksi penjualan terjadi antara produsen dan grosir, agen dan broker akan mendapat komisi. Lalu grosir akan menjual produk ke ritel dan kemudian produk didistribusikan ke konsumen akhir oleh ritel.

Saluran Distribusi

Dalam proses distribusi barang dan penyampaian produk ke konsumen, terdapat 2 macam saluran inti dari distribusi yaitu pedagang dan perantara khusus.

1. Pedagang

  • Grosir (pedagang besar)
  • Ritel (pedagang eceran)

2. Perantara khusus

  • Agen (dealer)
  • Broker (makelar)
  • Komisioner
  • Eksportir
  • Importir

Strategi Distribusi

Layanan distribusi sangat penting di semua sektor bisnis seperti layanan distribusi makanan dan minuman, pakaian, pos, dll. Untuk memaksimalkan proses distribusi tentu harus mempunyai strategi distribusi dalam pelaksanaannya.

Pemilihan jenis strategi bisnis harus disesuaikan dengan jenis produk yang sedang dipasarkan untuk mencapai target penjualan. Secara garis besar ada tiga jenis strategi distribusi yang bisa digunakan oleh produsen untuk memilih cara mereka mendistribusikan produk ke pasar atau konsumen yaitu distribusi intensif, distribusi eksklusif, dan distribusi selektif.

1. Strategi Distribusi Intensif

Distribusi intensif adalah strategi yang digunakan perusahaan ketika ingin fokus ke penyediaan produk ke seluruh pasar yang terakses, memastikan ketersediaan produk secara luas guna meningkatkan kesadaran tentang produk.

Untuk pendistribusian dalam skala besar, penjualan tentu besar juga yang berimbas pada meningkatnya revenue. Untuk memaksimalkan strategi ini, perusahaan sebaiknya memperhatikan hal-hal seperti pemasaran target, harga, ukuran produk, promosi, dan detail informasi produk lainnya secara terperinci.

2. Strategi Distribusi Eksklusif

Distribusi eksklusif adalah strategi pemasaran yang berotasi di antara produsen dan distributor. Produsen memilih distributor eksklusif daripada menargetkan banyak distributor.

Berbeda dari strategi lainnya, distributor eksklusif diberi hak eksklusif untuk menjual produk di area geografis tertentu sesuai dengan arahan produsen. Jumlah produk yang dijual pun bisa jadi terbatas untuk menjaga posisi dominan di pasar.

Strategi ini sering diaplikasi oleh perusahaan yang ingin branding bergengsi, biasanya digunakan oleh brand mobil mewah, pakaian desainer, dan produk-produk eksklusif lainnya. Jenis ini memberi kontrol perusahaan dalam hal promosi, kebijakan layanan, harga perantara, dan banyak faktor lainnya.

3. Strategi Distribusi Selektif

Distribusi selektif adalah strategi pembuatan outlet dengan jumlah tertentu di area geografis tertentu saja. Jenis ini paling efektif untuk perusahaan dengan brand kelas atas. Dengan pembatasan outlet, produsen dapat menyaring outlet dengan kinerja terbaik untuk mendapatkan output yang juga lebih baik, daripada membuang sumber daya maupun energi ke outlet yang banyak jumlahnya. Sehingga perusahaan bisa lebih fokus juga untuk proses produksi dan pendistribusian barang dengan segala upaya yang selektif.

Setelah mengenal lebih dalam tentang distribusi tentu Anda sudah lebih paham bagaimana alur distribusi barang/jasa hingga sampai ke konsumen. Dalam kegiatan distribusi tentu dibutuhkan manajemen distribusi yang baik dan teratur demi kelancaran dan kesuksesan pelaksanaannya. Dalam menentukan strategi distribusi pun tidak bisa asal, namun harus disesuaikan lagi dengan kebutuhan. Penentuan atau pemilihan bentuk, saluran, dan strategi distribusi adalah beberapa aktivitas yang terjadi di dalam manajemen distribusi.

Di era industri 4.0 ini, peran teknologi bisa jadi sangat membantu dan mempermudah bisnis seperti dalam proses distribusi. Sidig hadir sebagai solusi bisnis perusahaan Anda. Untuk lebih tahu mengenai software aplikasi distribusi yang bisa Anda gunakan untuk membantu distribusi produk Anda, silakan kunjungi https://sidig.id/

WeCreativez WhatsApp Support
Kontak kami melalui Whatsapp
👋 Halo,ada yang bisa kami bantu?