Aplikasi Manajemen Distribusi Logistik

Aplikasi Manajemen Distribusi Logistik

Distribusi dan logistik merupakan dua istilah yang sangat berbeda namun saling berkaitan dan sama-sama penting ketika menjalankan sebuah bisnis. Baik untuk bisnis produk maupun jasa, keduanya sama-sama membutuhkan peran distribusi maupun logistik.

Antara membuat penjualan dan mengantarkan pesanan konsumen, distribusi logistik memainkan peran yang sangat krusial pada mata rantai pasok. Distribusi adalah jantung pada bisnis, khususnya bisnis online. Tanpa distribusi, akan sulit untuk mengirim barang secara konsisten dan memenuhi ekspektasi konsumen.

Bagaimanapun, untuk menjalankan distribusi secara tepat, perlu tindakan yang seimbang. Misalnya, Anda membutuhkan inventasi yang cukup untuk memenuhi tingginya permintaan bersamaan juga dengan mengoptimasi ruang penyimpanan untuk menghemat biaya operasional.

Komponen utama dari distribusi logistik adalah untuk mengurangi risiko, menghemat biaya, dan membuat supply chain menjadi lebih kuat seberapapun tantangan datang. Yuk, kita bahas lebih lanjut mengenai manajemen distribusi logistik.

Apa itu Sistem Logistik?

Sistem logistik merujuk pada proses perencanaan, pengimplementasian, dan pengontrolan pergerakan produk, jasa, atau informasi di dalam sebuah mata rantai pasok dari poin asal mulanya hingga pada titik konsumsi. Berbagai macam perusahaan logistik menangani beberapa atau bahkan semua fungsi supply chain tergantung pada syarat logistik dari klien mereka.

Untuk sistem pengadaan logistik sendiri ada dua macam yaitu sistem sentralisasi dan desentralisasi, tetapi bisa juga campuran keduanya. Sistem sentralisasi yaitu sistem terpusat pada satu unit logistik yang diberikan kewenangan untuk mengadakan barang-barang logistik yang dibutuhkan oleh unit-unit kerja dalam satu organisasi.

Sedangkan sistem desentralisasi yaitu terdapat pemberian kewenangan bagi masing-masing unit kerja untuk merancang daftar barang yang dibutuhkan dan juga kewenangan untuk memproses pengadaannya secara mandiri sehingga masing-masing unit kerja punya unit logistik masing-masing juga di dalam organisasinya.

Sistem informasi logistik menyediakan informasi barang dan mengikuti pola pengiriman mereka dengan progres dan status mereka, dan juga pengaruh perubahan pada pembelian, produksi, pergudangan, dan juga sistem finansial dan akuntansi.

Apa itu Manajemen Logistik?

Manajemen logistik adalah pengaturan fungsi-fungsi manajemen supply chain yang membantu untuk mengatur perencanaan, pengelolaan, dan pengimplementasian proses untuk memindahkan dan menyimpan barang.

Aktivitas manajemen logistik biasanya termasuk manajemen transportasi arah pulang dan pergi, manajemen armada, pergudangan, penanganan material, pemenuhan pesanan, desain jaringan logistik, kontrol inventaris, perencanaan suplai atau permintaan dan manajemen penyedia layanan logistik pihak ketiga.

Termasuk dalam manajemen logistik yaitu sistem manajemen gudang logistik juga. Sistem gudang logistik melingkupi faktor-faktor kompleks dari pengaturan, pemindahan, dan pengelolaan yang terlibat di dalam pergudangan; termasuk juga alur (pengiriman dan penerimaan) inventaris fisik, informasi, dan waktu operasional gudang.

Sistem gudang logistik melibatkan semua kebijakan, prosedur, dan pengaturan alat-alat penting sehingga operasional pergudangan berjalan dengan lancar.

Fungsi Sistem dan Manajemen Logistik

Percuma saja produk Anda sangat fantastis jika tidak mencapai konsumen di mana dan kapan mereka membutuhkannya. Oleh karenanya, sistem dan manajemen logistik sangat esensial untuk kesuksesan sebuah bisnis.

Fungsi-fungsi sistem dan manajemen logistik yaitu termasuk layanan konsumen, pemrosesan pesanan, pencarian sumber dan akuisisi, manajemen inventaris, pergudangan, rencana produksi dan penjadwalan, pengemasan dan pengumpulan, penanganan kargo, dan transportasi. Manajemen logistik adalah bagian dari semua tahap perencanaan dan eksekusi strategi dan operasional.

Lebih jauh, sistem dan manajemen logistik mengkoordinasi semua aktivitas logistik dan mengintegrasinya dengan fungsi-fungsi lainnya termasuk marketing, penjualan, manufaktur, finansial, dan teknologi informasi. Dengan integrasi sistem logistik, segala proses dan aktivitas logistik dapat berjalan dengan baik dan lancar tentunya.

Apa yang Dimaksud dengan Manajemen Distribusi Logistik?

Sistem distribusi logistik bisa berarti banyak hal tergantung dari industrinya. Untuk brand yang langsung berinteraksi dengan konsumen, distribusi logistik merujuk pada proses pengiriman barang jadi secara keseluruhan mulai dari manufaktur atau supplier secara langsung ke ritel atau pusat distribusi di mana pemrosesan pemenuhan pesanan berlangsung.

Dari situ, pesanan disiapkan untuk last-mile delivery. Selama fase distribusi, brand online akan bekerja dengan mitra pembawa yang bervariasi untuk memastikan shipment terkirim tepat waktu dan punya tarif yang paling terjangkau.

Manajemen distribusi logistik berperan mengelola segala proses distribusi logistik dan memastikan barang manufaktur mencapai konsumen dengan cepat dan terpercaya. Perannya sangat krusial dalam mengelola segala aktivitas yang menjembatani antara produksi dan pasar. Areanya mencakup semua proses termasuk distribusi barang ― dari perusahaan manufaktur hingga sampai ke konsumen.

Kemudian fungsi logistik pemasaran dalam saluran distribusi meliputi:

  1. Mengembangkan dan melakukan komunikasi yang persuasif mengenai penawaran produk.
  2. Mengumpulkan informasi penting tentang konsumen dan kompetitor untuk perencanaan kedepannya dan membantu jika perlu dilakukan penukaran barang.
  3. Menempatkan konsumen dan membantu dalam perencanaan untuk mengirimkan produk ke konsumen di dalam time frame yang mereka inginkan.
  4. Menyederhanakan transaksi antara penyedia logistik dan konsumen.
  5. Membantu dalam perencanaan pusat distribusi yang dekat dengan konsumen untuk memastikan bahwa waktu pengiriman sesuai.

Tujuan Manajemen Distribusi Logistik

Berikut beberapa tujuan dari manajemen distribusi logistik:

  1. Memastikan kuantitas produk cukup dan tersedia untuk konsumen. Konsumen harus menerima barang dengan tepat waktu.
  2. Menghemat biaya. Permintaan yang tinggi mengharuskan proses distribusi logistik hanya memakan biaya serendah mungkin untuk mengurangi biaya terkait dengan transportasi, pergudangan, kekurangan barang dan pemrosesan pesanan.
  3. Mempengaruhi kemungkinan produk terus tersedia dan menempati posisi tinggi di pasar.

Contoh Sistem Manajemen Logistik dari Amazon

Bisa dibilang pemimpin logistik paling terkenal yang sudah muncul beberapa dekade terakhir adalah raksasa e-commerce Amazon, yang bisa menjadi contoh sistem logistik sekaligus contoh sistem logistik yang terintegrasi. Amazon terkenal dengan strategi sistem manajemen logistiknya dan merupakan contoh manajemen logistik yang bisa Anda pelajari untuk diterapkan.

Hal tersebut mungkin karena jaringan global distribusi milik perusahaan, penyortiran, dan pusat pemenuhan kebutuhan dan pesanan. Model pengiriman Amazon same-day dan next-day bertumpu pada framework logistik yang kompleks.

Produk dikirimkan ke pusat pemenuhan kebutuhan dan pesanan sebelum dipindahkan ke pusat sortir. Setelah barang sudah sampai di pusat sortir Amazon, barang kemudian dimuat ke mode transportasi jangkauan luas yang bisa juga termasuk armada milik perusahaan sendiri seperti truk atau pesawat pengiriman.

Amazon sudah benar-benar merombak manajemen logistiknya, namun hal tersebut bukan satu-satunya penyedia third party logistics (3PL) yang utama yang meledak di dalam industrinya. Perusahaan seperti UPS dan FedEx juga sudah berperan cukup signifikan dalam transformasi logistik.

Aplikasi Manajemen Distribusi Logistik

Peran teknologi sangat membantu dalam proses manajemen distribusi logistik ini. Aplikasi manajemen distribusi logistik harus mampu menjalankan fungsi dan proses perusahaan untuk mengelola dan mengeksekusi penyimpanan dan pengiriman produk.

Aplikasi manajemen distribusi logistik melibatkan fungsi terintegrasi dan komprehesif dari sistem ERP secara keseluruhan. Fungsinya biasanya terintegrasi dengan fungsi bisnis lain dalam sistem seperti penjualan, finansial, procurement, dan human resource; sekaligus juga berfokus pada manajemen pergudangan, manajemen transportasi, perencanaan supply chain, dan eksekusi supply chain.

Sidig bisa menjadi pilihan aplikasi manajemen distribusi logistik bisni Anda. Pelajari selengkapnya dengan mengunjungi https://sidig.id/

Cross Selling dan Upselling, Mana yang Lebih Baik?

Cross Selling dan Upselling, Mana yang Lebih Baik?

Cross selling dan upselling merupakan dua strategi yang secara luas digunakan oleh banyak brand untuk meningkatkan profit mereka dan membagi value pembelian dengan nilai rata-ratanya. Kedua stratregi marketing ini sebenarnya sangat sederhana tapi juga sangat efektif untuk meningkatkan penjualan bisnis Anda.

Menggaet konsumen-konsumen baru bisa dibilang akan membutuhkan biaya lebih mahal daripada mempertahankan konsumen yang sudah ada atau konsumen lama. Di samping itu, konsumen loyal membeli lebih sering dibandingkan dengan prospek-prospek baru. Jadi, jika Anda mengabaikan strategi cross selling dan upselling ini untuk diterapkan ke kustomer Anda saat ini, Anda benar-benar sudah melewatkan kesempatan untuk mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan profit yang sangat banyak.

Meskipun cross selling dan upselling sama-sama merupakan strategi marketing, namun keduanya memiliki teknik atau metode yang berbeda. Bagaimana, sih, cara kerja cross selling dan upselling? Dan mana yang lebih baik, cross selling atau upselling? Yuk, kita bahas lebih lanjut pada artikel ini.

Apa itu Cross-Selling?

Cross selling adalah sebuah teknik dalam strategi marketing yaitu mempersuasi, mengajak, dan mendorong konsumen untuk membeli produk atau jasa lain selain barang atau jasa yang sudah hendak dibeli sebagai tambahan. Seringkali barang yang dilibatkan dalam strategi cross selling adalah barang komplementer atau barang yang bisa melengkapi dari barang apa yang sudah dipilih untuk dibeli, sehingga konsumen akan merasa lebih punya alasan untuk membeli keduanya atau bahkan beberapa barang sekaligus karena barangnya saling berkaitan.

Setelah konsumen sudah memasukkan belanjaan ke keranjang belanja atau hendak membayar di kasir, secara implisit mereka mensinyalkan bahwa mereka adalah konsumen aktif dan punya intensi untuk membeli. Pada titik siklus hidup pembeli ini, sebuah bisnis seringkali akan mengimplementasikan teknik cross selling ini dengan merekomendasikan sebuah barang komplementer atau dengan memberikan diskon jika kedua barangnya dibeli langsung. Seiring dengan kenyataan bahwa konsumen sudah siap untuk melakukan pembelian pada tahap ini, mereka akan cenderung punya perilaku impulsif di menit-menit terakhir.

Apa itu Upselling?

Upselling adalah sebuah strategi penjualan ketika konsumen didorong untuk membeli sesuatu yang akan membuat pembelanjaan awal mereka bahkan menjadi lebih worthy. Upselling adalah teknik untuk memberi penawaran upgrade atau menawarkan versi yang lebih baik dari produk atau servis yang akan dibeli oleh konsumen. Produk atau servis yang dipromosikan biasanya produk atau item tambahan yang lebih mahal yang dapat menaikkan value pembelanjaan secara keseluruhan.

Upselling biasanya menjadi bagian dari perjalanan pembeli di mana mereka sudah menambahkan sesuatu ke keranjang belanja mereka atau sudah hampir bayar dan jadi punya perilaku lebih reseptif terhadap usaha penjualan di menit-menit akhir. Konsumen biasanya sudah riset produknya, mereka mungkin sudah mempertimbangkan upgrade atau menambah item yang seharusnya meningkatkan kemungkinan mereka untuk akhirnya memutuskan beralih ke versi lebih baik itu di menit terakhir.

Marketer sering menggunakan taktik ini dalam campaign untuk menghasilkan lebih banyak penjualan.

Perbedaan Cross Selling dan Upselling

Sebenarnya upselling dan cross selling adalah dua taktik yang mirip. Selain itu juga keduanya bertujuan untuk meningkatkan profit perusahaan meskipun dengan cara yang berbeda. Upselling menaikkan revenue dengan menjanjikan level produk yang lebih tinggi, sedangkan cross selling melakukan hal serupa dengan menyarankan untuk membeli lebih banyak produk.

Perbedaan antara dua teknik ini juga terletak pada intensi konsumen. Ketika pembeli menambah item yang merupakan bagian dari teknik cross selling, mereka tidak punya intensi untuk membeli item tambahan tersebut sebelumnya. Setelah penjual menyarankan untuk membeli lebih, konsumen mungkin jadi mempertimbangkan menambah item karena mereka cocok dengan barang yang sudah atau hendak dibeli sebelumnya.

Upselling menyerukan hasrat konsumen untuk membeli sesuatu. Penjual menawarkan untuk check out produk yang punya kualitas lebih baik dan hanya itu saja sudah.

Ringkasnya, upselling adalah teknik meng-upgrade belanjaan yang sudah ada sedangkan cross selling adalah menambah barang untuk dibeli.

Pibcxj52M61XARgyfhmPHI 4zQNgVEtHAtQSqYcCW71hP3PaOO3xymiqchMz AJvqfs23pb8W8och00hRse5OAdqIQ8JaVEY6OdPaNzehuD4BAzJNHK Oe5UM6 xjaazBxkM2jdaRhtYpnabRoEjyRMyb24JmUNslQP7F3R5reBWBCUIVVvm GkdamR
Sumber: tranzzo.com 

Contoh Cross selling dan Upselling

Berikut beberapa contoh cross selling dan upselling yang sudah diterapkan di banyak bisnis.

Cross Selling

  • McDonald’s

Saat Anda pergi ke McDonald’s untuk menikmati makan siang atau hanya sekedar ingin menikmati makanan ringan, Anda pasti sering menemui teknik cross selling ini. Misalnya Anda memesan cheeseburger, sudah pasti Anda juga akan ditawari untuk memesan French fries sekaligus. Kemudian jika Anda memesan menu nasi ayamnya, Anda pasti akan ditawari untuk memesan minuman juga seperti soda atau lemon tea.

  • Maybelline

Jika Anda ke gerai Maybelline untuk membeli maskara, Anda pasti juga akan ditawari untuk membeli beberapa item lainnya seperti eyeliner, lipstik, eyeshadow, dan item make up lainnya dari Maybelline.

Upselling

  • Starbucks

Ketika Anda memesan minuman kesukaan Anda di Starbucks, Anda pasti sudah tidak asing dengan penawaran untuk melakukan upsize. Misalnya Anda memesan Caramel Macchiato ukuran tall, pasti Anda sudah tidak asing dengan penawaran seperti “mau upgrade Caramel Macchiato-nya ke cup grande sekalian kak?”

  • HP

HP adalah manufaktur PC internasional yang cukup terkemuka. Ketika konsumen membeli sebuah perangkat PC atau laptop dari mereka, Anda akan menemui teknik upselling seperti penawaran berbagai macam bentuk garansi dan rencana proteksi. Mereka bahkan memasukkan indikator visual untuk menggerakkan konsumen ke rencana yang lebih komprehensif.

Bagaimana CRM Mendukung Fungsi Cross Selling dan Upselling?

Software CRM bisa membantu Anda untuk memperoleh detail data kustomer dan data penjualan. Dengan memahami data penjualan yang sudah ada, Anda bisa memprediksi perilaku kustomer Anda di masa mendatang. Software CRM juga bisa merekam interaksi antara konsumen dengan tim penjualan yang tentu bisa dimanfaatkan untuk memprediksi strategi upselling atau cross selling yang akan digunakan. 

Hal pertama yang perlu dilakukan yaitu memilah konsumen dengan CRM sehingga mereka akan lebih bisa menerima penawaran upselling dan cross selling Anda. Dengan data yang ada, Anda bisa membuat persona pembeli untuk konsumen Anda yang akan membantu untuk memahami tujuan dan kebutuhan mereka. Hal tersebut juga dapat menunjukkan produk atau jasa mana yang bisa Anda upsell atau cross-sell.

Selain itu, penting juga untuk memonitor perjalanan konsumen sehingga dapat menunjukkan waktu yang tepat untuk menerapkan teknik upselling atau cross selling. Semua hal itu bisa dilakukan dengan menggunakan software CRM seperti Sidig. 

Supaya CRM Anda menyediakan data lengkap dan akurat dari hubungan bisnis Anda dan aktivitas yang terhubung dengan mereka, Anda perlu mengotomatiskan praktik sederhana CRM, melacak trend hubungan, dan mendorong kerja tim yang lebih kolaboratif untuk mendapatkan kesempatan-kesempatan mengeksekusi cross selling dan upselling pada bisnis Anda.

Kesimpulan

Jadi mana yang lebih baik, cross selling atau upselling? Kembali lagi ke perilaku kustomer Anda dan jenis bisnis Anda. Pada dasarnya keduanya bisa sekali digunakan untuk meningkatkan revenue bisnis Anda dengan perencanaan strategi yang matang dan penerapan yang tepat. Untuk informasi lebih lanjut tentang aplikasi CRM guna mendukung strategi upselling dan cross selling yang sedang Anda rencanakan, kunjungi blog Sidig dan temukan artikel yang sedang Anda cari di sana.

Benarkah Reward Bisa Menciptakan Loyalitas Konsumen?

Benarkah Reward Bisa Menciptakan Loyalitas Konsumen?

Saat ini, banyak sekali brand dari berbagai sektor yang menawarkan beragam reward kepada audiens atau calon kustomer. Misalnya banyak perusahaan maskapai penerbangan yang menawarkan macam-macam deals penerbangan dengan cukup sering, kemudian juga perusahaan telekomunikasi yang menurunkan tarif mereka untuk mendapat volume lebih. Banyak sekali perusahaan yang rela membakar banyak uang dan mengimplementasikan program reward.

Mengejutkannya, ternyata program reward membuahkan hasil yang memuaskan bagi perusahaan. Bisa dibilang mereka tidak sia-sia membakar uang karena revenue yang didapat melebihi biaya yang dikeluarkan untuk membakar uang. Jadi, jawabannya adalah ya, program reward bisa membangun loyalitas konsumen, dan banyak perusahaan membuktikan bahwa loyalitas konsumen sangatlah berharga. Kenapa bisa begitu? Ayo, kita gali lebih dalam.

Aturan Reward

Contoh terbaik dari membangun loyalitas konsumen melalui value sharing biasanya ditemukan di bisnis kecil yang masih tradisional. Sudah bertahun-tahun, pedagang dan restoran memahami tujuan yang lebih luas dari program reward yang efektif. Mereka selalu mencoba mengenali konsumen secara personal dan sering memberi bonus ke mereka berupa layanan spesial atau perhatian khusus. Misalnya, restoran memberi pelanggan minuman atau dessert spesial gratis. Mereka memahami bahwa apa yang diberikan menaikkan value kustomer dan menjadikan mereka sebagai pelanggan loyal; dan pelanggan yang loyal akan sangat menguntungkan dari waktu ke waktu.

Namun, seiring bisnis menjadi besar maka akan semakin sulit untuk mengenali konsumen dengan lebih detail sehingga value sharing antara perusahaan dan konsumen pun bisa jadi hilang. Perusahaan-perusahaan besar mengupayakan untuk menaikkan market share, skala, dan efisiensi; mencoba mengimbangi kerugian aspek itu dengan menggunakan database marketing atau teknis riset pasar untuk menargetkan konsumen yang berharga. Untuk membayar investasi itu, perusahaan harus mengingat prinsip value sharing yang efektif berikut.

1. Tidak Semua Pelanggan Setara

Menyadari keuntungan dari loyalitas artinya mengakui bahwa tidak semua kustomer itu setara. Dalam rangka memaksimalkan loyalitas dan keuntungan, sebuah perusahaan harus memberikan value terbaiknya ke konsumen terbaik mereka. Konsumen yang berpotensi seharusnya menikmati keuntungan yang dibuat oleh perusahaan. Hasilnya, mereka akan menjadi lebih loyal dan menguntungkan.

Misalnya, perusahaan mempertimbangkan untuk menawarkan harga khusus ke pelanggan setia atau pelanggan tetap. Dengan tidak menyamaratakan konsumen, tentu konsumen yang loyal akan merasa punya hubungan lebih personal dengan perusahaan yang akan memberi keuntungan jangka panjang bagi perusahaan itu sendiri.

2. Value untuk Company Harus Melebihi Value yang Diberikan untuk Konsumen

Kebanyakan perusahaan rilis program reward tanpa mengevaluasi kebutuhan mereka sendiri dan perekonomian dari sebab-akibat. Mereka belum memikirkan kaitan antara value yang disampaikan ke konsumen dan value yang dibuat untuk perusahaan. Sebuah program reward seharusnya memberikan sesuatu, jika tidak maka laba hanyalah ilusif namun biaya adalah nyata.

Kesalahan yang sering terjadi adalah perusahaan memberikan diskon yang sama rata ke semua konsumen tidak peduli seberapa sering mereka mengunjungi atau berbelanja atau seberapa banyak mereka membeli. Hal seperti itu berbeda dari cara bisnis konvensional seperti restoran tradisional di mana pemilik restoran hanya memberi penawaran khusus terhadap pelanggan loyal saja.

3. Perilaku Konsumen Harus Mengarah ke Value Sharing

Rewarding — perilaku yang sangat menarik tampak seperti doktrin yang terlihat jelas dari desain program, tapi marketplace penuh dengan perusahaan yang memberi reward ke omongan daripada aksi nyata. Reward yang hanya ditujukan untuk kustomer baru dan bersifat umum sebenarnya tidak menguntungkan perusahaan dalam jangka panjang. Promosi seperti itu sering kita temui sekarang ini dan seharusnya dipertimbangkan lagi. Bisnis tidak akan dapat laba dengan konsumen yang bersifat chronic switcher. Lebih baik menawarkan kartu member sehingga konsumen akan menjadi pelanggan dan tentu loyalitas terbangun.

4. Perspektif Jangka Panjang itu Penting

Promosi satu kali menghabiskan biaya yang lumayan besar dan nyatanya tidak menghasilkan loyalitas. Promosi seperti itu mengubah perilaku konsumen namun tidak mempertahankan mereka untuk jangka panjang.

5. Penawaran Harus Menargetkan Konsumen yang Atraktif

Desain program reward yang baik dapat menargetkan dan menarik segmen konsumen yang berharga. Di waktu yang bersamaan, hal tersebut dapat menghemat uang perusahaan dengan memangkas konsumen yang terbukti kurang valuable bagi perusahaan. Program tersebut bisa dikatakan sebagai self-selecting dan individually correcting.

Strategi Menjalankan Loyalty Program

Sebuah program reward adalah strategi yang kompetitif dan harus sesuai kriteria tertentu. Dalam melaksanakan strategi loyalty program, hendaknya pertimbangkan hal-hal berikut:

1. Apakah loyalty program sejalan dengan kemampuan perusahaan?

Jangan hanya karena kustomer Anda membutuhkan sesuatu yang bukan ranah bisnis Anda lalu Anda memaksakan untuk mengembangkan kemampuan membuat produk tersebut. Program reward tidak berada di kehampaan, program reward harus terkoneksi sebaik mungkin dengan strategi dan kemampuan.

2. Akankah konsumen tertarik dan menganggap program tersebut penting?

Banyak program reward dan loyalitas di marketplace sekarang ini yang membeberkan pemahaman terbatas mengenai kebutuhan dan keinginan konsumen. Dari perspektif konsumen, 5 elemen menentukan value program: cash value, pilihan redemption, value aspirasional, relevansi, dan kenyamanan.

3. Apakah kemitraan membuat program semakin kompetitif?

Untuk membuat value sharing bekerja, value yang disampaikan perusahaan ke konsumen terbaiknya harus kompetitif dalam 5 dimensi: cash value, pilihan, aspirasi, relevansi, dan kenyamanan.

Setelah mengetahui bahwa loyalitas konsumen merupakan aspek krusial bagi keberlangsungan perusahaan, Anda harus memikirkan dan mempersiapkan program loyalitas dengan matang supaya berjalan efektif. Salah satu cara untuk mewujudkannya yaitu melibatkan keberadaan teknologi, aplikasi berbasis software.

Salah satu aplikasi untuk loyalty program adalah Sidig. Sidig merupakan aplikasi CRM yang mumpuni untuk mendukung terlaksananya loyalty program sebuah brand dengan berbagai fitur andalan. Ingin tahu lebih banyak tentang Sidig? Kunjungi website-nya di https://sidig.id/

9 Masalah Distribusi beserta Solusinya

9 Masalah Distribusi beserta Solusinya

Setiap bisnis pasti mempunyai tantangannya masing-masing, tidak mungkin semua bisnis berjalan lancar tanpa ada hambatan-hambatan selama berjalan. Namun, tantangan-tantangan bisnis tersebut justru menjadi sebuah sarana untuk semakin menguatkan sistem manajemen bisnis Anda, dan membuat perusahaan bergerak untuk mencari solusi dan menyiapkan beragam langkah mitigasi untuk menyelesaikan permasalahan bisnis perusahaan.

Salah satu bagian penting dari kegiatan ekonomi yaitu aktivitas distribusi. Distribusi adalah proses yang memungkinkan produk atau jasa dari produsen bisa sampai dan diterima oleh konsumen. Tentu dalam proses distribusi itu sendiri, terdapat juga beragam masalah distribusi yang dihadapi oleh perusahaan. Perusahaan harus mencari solusi dengan cepat dalam menghadapi masalah distribusi yang terjadi. Akibat dari munculnya masalah distribusi yaitu kerugian perusahaan karena produk tidak sampai ke konsumen sehingga dapat memangkas revenue perusahaan.

Ada 9 masalah distribusi yang akan dipaparkan dalam artikel ini dan tentu akan dibahas juga solusinya. Untuk mempelajari masalah distribusi beserta penyelesaian masalahnya, simak artikel ini sampai habis, ya.

Permasalahan yang Sering Terjadi dalam Proses Distribusi Produk dan Solusinya

1. Customer Service

Dari pertama kali kontak dengan sales perwakilan, perusahaan sudah mengumpulkan informasi penting terkait preferensi konsumen tentang produk, riwayat transaksi, dan komunikasi follow-up. Perusahaan juga mungkin melacak ulasan konsumen, komplain, dan pengembalian produk.

Data konsumen yang diterima operasional sangatlah banyak jumlahnya. Jika perusahaan tidak bersiap untuk mengumpulkan dan menganalisa informasi, akan menjadi sulit untuk mengelola inventaris untuk mencukupi permintaan konsumen.

Solusi untuk permasalahan ini adalah aplikasi CRM yang dapat membantu perusahaan untuk mengelola sejumlah besar data dan menganalisanya. Salah satu rekomendasi aplikasi CRM adalah Sidig dengan berbagai macam fitur yang terintegrasi sehingga dapat melancarkan proses distribusi produk Anda.

2. Pelacakan Inventaris

Karyawan mungkin menempatkan box jauh di belakang ketika barang yang lebih baru di tempatkan di depannya. Pengiriman menjadi kacau di warehouse karena barang tercampur dan kurang terorganisir dengan baik. Tanpa pelacakan inventaris yang efektif, perusahaan menjadi tidak tahu berapa banyak produk yang tersedia di setiap lokasi warehouse. Jika pekerja gagal mencatat inventaris atau menempatkannya di lokasi yang tepat, manajer bisa saja mengira stok produk habis. Dengan begitu konsumen akhirnya akan memesan di perusahaan kompetitor.

Anda bisa menggunakan sistem manajemen inventaris supaya operator warehouse tahu di mana letak dan keberadaan setiap produk. Sistem ini termasuk penggunaan barcode dan scanner untuk memindai informasi produk ketika pengiriman datang dan produk ditempatkan di rak.

3. Lonjakan E-commerce

Lonjakan e-commerce B2B dan B2C sudah mempengaruhi industri B2B, menuntut distributor untuk mengevaluasi ulang strategi bisnis mereka dan mempertimbangkan untuk menyertakan e-commerce ke channel mereka.

Beberapa sudah secara reaktif mengikutsertakan pilihan e-commerce ini ke channel mereka, memperbaiki tampilan bisnis menjadi lebih menarik dan ramah. Langkah ini menciptakan sebuah kesempatan untuk organisasi-organisasi yang sudah mendesain ulang ruang online mereka dan menyertakan solusi e-commerce ke platform mereka yang tampak menarik untuk pembeli.

4. Ritel Menuntut Kondisi yang Lebih Baik

Ritel skala besar sudah memperluas penawaran produk mereka dan layanan pengiriman, membebankan penalti pada distributor yang terlambat pengirimannya dan tidak bisa memenuhi permintaan barang karena kehabisan stok. Distributor grosir mungkin juga kena denda karena memberikan informasi produk yang tidak akurat. Oleh karena itu, banyak perusahaan sudah berinvestasi pada peningkatan teknologi yang digunakan dan pelatihan tambahan untuk karyawan dalam rangka memenuhi standar operasional yang baru.

5. Manufaktur Menjual Langsung ke Toko

Dalam rangka menghadapi kenaikan permintaan mengenai harga yang lebih terjangkau dan waktu pengiriman dari toko, banyak manufaktur yang tidak menggunakan distributor melainkan langsung menjual produk ke ritel besar. Hal ini dapat diatasi dengan menciptakan sistem distribusi yang terautomasi sehingga tidak ada keterlambatan pengiriman dan permasalahan lainnya. Solusi lainnya adalah menciptakan sistem penggabungan sehingga muncul sistem distribusi nasional.

6. Informasi Tidak Real-Time

Manajemen distribusi atau manajemen inventaris sangat penting untuk bisnis pembuatan produk dan pendistribusian barang jadi. Detail informasi mengenai waktu pengiriman, ketersediaan barang di gudang, jumlah barang yang dikirim, dan sebagainya sangat penting untuk diinformasikan secara real-time ke divisi atau karyawan penanggung jawab.

Era teknologi menjawab tantangan ini karena banyak software aplikasi untuk manajemen distribusi dan manajemen inventaris yang terintegrasi yang dapat melakukan berbagai tanggung jawab seperti yang disebutkan, khususnya pendataan dan penyampaian informasi secara real-time.

7. Transportasi Pengiriman

Dalam pelaksanaan kegiatan distribusi, masalah transportasi pengiriman bisa dibilang adalah masalah umum yang sering terjadi. Kesulitan dalam mengukur efisiensi transportasi yang digunakan untuk pengiriman barang menjadi tantangan lumrah yang sering dihadapi distributor. Untuk mengatasinya, dibutuhkan sebuah sistem untuk mengatur transportasi atau manajemen transportasi. Sistem pengelolaan transportasi akan sangat membantu kelancaran proses pengiriman sehingga dapat menghindarkan dari keterlambatan pengiriman barang ke konsumen.

8. Data Stok Tidak Akurat

Permasalahan informasi stok yang tidak akurat menjadi salah satu permasalahan terbesar dalam kegiatan distribusi. Data persediaan stok seharusnya terus diperbarui setiap hari supaya menjaga keakuratannya. Jika tidak hati-hati dan teliti, bisa saja terjadi selisih barang dan tentu menimbulkan permasalahan yang besar. Sistem manual sangat rawan dengan permasalahan seperti ini misalnya kesalahan ketik atau bisa saja terjadi kecurangan. Hal ini akan berimbas pada kerugian perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan perlu memanfaatkan software aplikasi distribution management system (DMS) sehingga informasi lebih akurat dan terjamin tanpa rekayasa.

9. Kesulitan Mengontrol Promosi

Permasalahan terakhir yang bisa terjadi dalam proses distribusi produk adalah adanya kesulitan untuk mengatur diskon dan promosi di lapangan. Biasanya industri distribusi punya tarif yang beragam sesuai kebutuhan klien. Ada klien yang masih baru, namun ada juga klien yang sudah menjadi pelanggan tetap. Sehingga, skema promosi dan diskon harus dipikirkan juga secara matang. Misalnya untuk pelanggan lama, tentu distributor sebaiknya membuat strategi promosi atau potongan harga.

Jika tugas ini dilakukan secara manual dengan jumlah klien ratusan, maka akan sangat melelahkan dan bisa juga terjadi eror. Di sinilah fitur yang terdapat dalam aplikasi distribusi berperan penting untuk mengkonfigurasikan promosi yang fleksibel secara mudah.

Baca Juga: Sistem Manajemen Distribusi Perusahaan

Dari segala permasalahan distribusi yang mungkin terjadi dan menjadi kendala kegiatan distribusi bisnis Anda, dapat disimpulkan bahwa keberadaan distribution management system (DMS) atau sistem manajemen distribusi sangatlah penting dan menjadi solusi tepat proses distribusi produk bisnis Anda. Software aplikasi DMS yang dapat terintegrasi dengan berbagai macam layanan akan sangat membantu dan memudahkan prosesnya seperti untuk urusan manajemen aset dan inventaris bahkan layanan purna jual. Sidig menawarkan solusi cerdas dengan berbagai macam fitur yang mendukung kelancaran distribusi seperti invoicing, data pembelian, alokasi produk, invite store, dll. Pelajari tentang Sidig selengkapnya di https://sidig.id/

Model Distribusi Sales yang Sesuai Kebutuhan Bisnis

Model Distribusi Sales yang Sesuai Kebutuhan Bisnis

Distribusi adalah salah satu aktivitas ekonomi yang krusial untuk kelancaran proses penjualan produk atau jasa perusahaan Anda. Distributor bertanggung jawab untuk menyalurkan barang atau jasa dan menyampaikannya dengan baik ke konsumen.

Strategi distribusi dibutuhkan untuk mengetahui model distribusi sales yang cocok untuk bisnis perusahaan Anda. Manajemen distribusi dituntut untuk mampu menentukan model distribusi sales supaya menjaga keberlangsungan proses produksi dan produk sampai diterima oleh konsumen dalam keadaan baik. Oleh karena itu, model distribusi sales yang dipilih secara tidak langsung dapat mempengaruhi kenaikan revenue perusahaan. Dalam menentukan model distribusi sales pun tidak boleh asal pilih, namun disesuaikan dengan kebutuhan bisnis Anda. Dengan strategi model distribusi sales yang tepat, produk dapat tersalurkan ke konsumen dengan baik dan siklus mata rantai pemasok dapat terus berjalan dengan lancar, sehingga dapat menaikkan proses produksi yang memberi keuntungan bagi produsen.

Apa saja model distribusi sales dan bagaimana cara menentukan model distribusi sales yang tepat untuk bisnis Anda? Cari tahu di sini, ya.

Apa itu Strategi Distribusi Produk?

Dalam sebuah proses bisnis, tim produksi akan menentukan pendekatan mana yang paling strategik untuk mengirimkan produknya ke konsumen. Tentu dalam melakukan kegiatan distribusi ini tidak dilakukan secara asal, tapi menggunakan suatu strategi distribusi agar prosesnya berjalan lancar dan maksimal.

Sebuah strategi distribusi produk meliputi semua proses dan metode bisnis yang ditetapkan untuk mengeksekusi pendekatan tersebut.

Apa itu Model Distribusi Sales?

Kata ‘distribusi’ mungkin memunculkan sebuah gambaran di dalam pikiran kita tentang truk dan muatan-muatan besar, tetapi lebih dari itu distribusi juga berkaitan dengan penjualan dan marketing. Model distribusi sales adalah metode untuk menjual produk dan jasa ke target klien.

Tidak mungkin sebuah produk atau jasa akan terjual dengan sendirinya ke konsumen. Tentu bisnis Anda perlu mendapatkan perhatian klien, Anda perlu mengatur langkah supaya konsumen melihat nilai produk Anda, mengantongi kepercayaan klien yang potensial, dan memastikan klien menerima produk dengan baik dan mereka merasa puas dengan pembelian yang mereka lakukan.

Jenis-jenis Model Distribusi Produk

Ada beberapa model distribusi sales konvensional. Kunci dari pemilihan model distribusi sales yang tepat untuk bisnis Anda adalah tipe konsumen yang Anda targetkan.

1. Menjual produk langsung ke konsumen dengan dibantu proses penjualan.

Ini merupakan metode yang umum digunakan oleh tim penjualan; menghubungi konsumen yang punya potensi atau merespon pengusulan yang dibuat oleh marketing atau ads campaign. Model distribusi sales ini bisa digunakan baik untuk B2B atau B2C.

2. Menjual produk langsung ke konsumen dengan sebuah proses pembelian otomatis.

Metode ini bisa digunakan untuk perusahaan di berbagai industri karena pembelian secara online menjadi wajar dan lumrah saat ini. Bahkan sektor yang dulunya biasa membutuhkan pertemuan yang lama dengan orang sales seperti sales mobil sekarang sudah mengadopsi pendekatan sales yang terotomatisasi. Model distribusi sales ini cocok untuk sebagian besar produk konsumer maupun produk B2B.

3. Distribusi resale melalui pemilihan dealer berizin.

Beberapa perusahaan menginginkan jangkauan pasar daripada tim sales in-house mereka sendiri, atau sebuah proses sales terotomatisasi dapat memberikannya. Dengan begitu, perusahaan memilih untuk menjual produk melalui grup kecil dari reseller atau dealer berizin.

Model distribusi sales ini bisa digunakan ketika bisnis mempercayai reseller dapat menjual produk secara efektif dengan tetap melindungi reputasi brand dan ketika bisnis mempercayai grup kecil dari dealer bahwa mereka dapat menjangkau lebih banyak konsumen.

4. Distribusi resale yang terbuka untuk semua reseller.

Jika tim produksi ingin menjangkau sebanyak mungkin pasar dengan cepat, mereka mungkin memilih untuk mengundang semua reseller untuk menawarkan produk mereka ke konsumen. Model distribusi sales ini bisa diaplikasikan ketika perusahaan menjual atau menawarkan tipe produk baru mereka di mana kompetitor sedang menjual produk baru sejenis di waktu bersamaan.

Langkah Menyusun Strategi Distribusi

Berikut langkah-langkah untuk menyusun strategi distribusi untuk mengembangkan tim produksi bisnis Anda:

  1. Pelajari perilaku target konsumen, bagaimana mereka berbelanja dan membeli produk
  2. Pelajari kompetitor
  3. Hitung berapa biaya setiap model distribusi yang diaplikasikan
  4. Pertimbangkan setiap pengaruh dari pendekatan pada perkembangan produk
  5. Jangan melupakan reputasi brand

Menentukan Model Distribusi Sales untuk Bisnis

Jenis model distribusi sales yang dipilih bergantung pada beberapa faktor seperti tipe produk, industri, dan model bisnis. Sehingga distribusi produk tidak terbatas hanya bisa menggunakan satu strategi saja seperti penjualan hanya melalui swalayan saja, namun sekarang semakin terbuka kesempatan untuk produsen menjual produk melalui outlet ritel atau juga menjualnya secara langsung ke konsumen dengan sistem online.

Baca Juga: Sistem Manajemen Distribusi Perusahaan

Perusahaan tidak terbatas hanya pada satu strategi distribusi sales saja. Mempunyai beberapa strategi berbeda adalah cara terbaik untuk mengoptimalkan pendapatan dan sebagai investasi. Bahkan setelah Anda memilih dan mengimplementasikan model distribusi sales pada bisnis Anda, Anda tetap harus terus meninjau dan mengevaluasi hasilnya sehingga Anda dapat memaksimalkan usaha untuk keberhasilan bisnis Anda.

Menjadi sebuah strategi juga untuk beralih ke sistem yang terdigitalisasi dalam melaksanakan kegiatan distribusi bisnis Anda. Untuk mempelajari lebih lanjut software aplikasi CRM guna memudahkan proses distribusi, yuk, klik di sini.

WeCreativez WhatsApp Support
Kontak kami melalui Whatsapp
👋 Halo,ada yang bisa kami bantu?