Strategi Distribusi Amazon

Strategi Distribusi Amazon

Saat mendengar Amazon, pasti yang terbayangkan adalah sebuah perusahaan e-commerce besar. Perusahaan multinasional asal Amerika ini berbasis teknologi dan berfokus pada e-commerce, cloud computing, digital streaming, dan artificial intelligence. Amazon menjadi salah satu perusahaan yang sangat berpengaruh terhadap perekonomian dunia dan menjadi salah satu brand bernilai tinggi di antara para kompetitornya seperti Alibaba, Oracle, Microsoft, Google, dan sebagainya.

Banyak yang bisa dipelajari dari cerita sukses Amazon, salah satunya yaitu tentang strategi distribusi Amazon. Penasaran, kan, pasti kira-kira strategi distribusi Amazon seperti apa hingga bisa sesukses itu. Mari kita bahas lebih lanjut strategi distribusi Amazon, siapa tahu Anda bisa mengadaptasinya untuk bisnis Anda. Simak artikel ini sampai habis, ya. 

Tentang Amazon

Yuk, sedikit lebih mengenal sejarah berdirinya Amazon. Pada tahun 1994, Jeff Bezos membuat Amazon di garasinya dengan nama awal Cadabra. Tahun 1995 bisnisnya mulai beroperasi sebagai toko buku online dan lalu kemudian dari Cadabra berganti nama menjadi Amazon yang terinspirasi dari sungai Amazon dan mempunyai moto “get big fast.” Perusahaan garapan Jeff Bezos ini bermarkas besar di Seattle, Washington.

Sekarang Amazon sudah sangat berkembang pesat dan memperluas bisnisnya ke beberapa industri; termasuk grocery, fashion, dan sudah membuka pergudangan yang sangat besar di seluruh negara. Dikenal sebagai ritel online terbesar di dunia dan penyedia cloud service terkemuka, Anda bisa mengunjunginya di Amazon.com.

Perusahaan ini menjadi sebuah perusahaan yang menjalankan bisnis berbasis teknologi dan internet, berfokus pada penyedia layanan e-commerce, cloud computing, digital streaming, dan layanan artificial intelligence (AI). Bisa dibilang Amazon adalah perusahaan ikonik electronic commerce (e-commerce).

Layanan Amazon

Amazon menawarkan layanan jasa dan produk yang sangat luas di beberapa area seperti retail, technology consumer, subscription service, digital content, Amazon Web Service (AWS), Amazon AI services, dan Amazon privately owned brands. Detailnya adalah sebagai berikut:

  • Retail

Amazon Marketplace, Amazon Fresh, Amazon Vine, Woot, Zappos, Merch by Amazon, dan Amazon Handmade.

  • Consumer Technology

Amazon Kindle, Amazon Fire tablet, Amazon Fire TV, Amazon Alexa, Amazon Echo, Amazon Echo Dot, Amazon Echo Show, dan Amazon Astro.

  • Subscription Service

Amazon Prime, Amazon Prime Video, Amazon Drive, Twitch Prime, dan Amazon Music Prime.

  • Digital Content

Amazon Pay, Amazon Music Unlimited, Kindle Store, dan Amazon Appstore for Android.

  • Amazon Web Service (AWS)

S3, Amazon Simple Queue Service (SQS), Amazon EC2, Amazon S3 Glacier, AWS Identity dan Access Management (IAM), dan Amazon Redshift.

  • Amazon AI Services

Amazon SageMaker, Amazon Lex, Amazon Polly, Amazon Rekognition, AWS DeepLens, Alexa Voice Service, Amazon Transcribe, Amazon Translate, dan Alexa Skills Kit.

  • Amazon Privately Owned Brands

AmazonBasics, Amazon Elements, Mama Bear, Presto!, Amazon Essentials, Happy Belly, dan Goodthreads.

Anak Perusahaan Amazon

Mulai dari bidang kesehatan hingga hiburan, Amazon sudah menjadi perusahaan multipel yang menjalankan bisnisnya di berbagai sektor dari waktu ke waktu. Berikut daftar jajaran akuisisi dan anak perusahaan Amazon:

  • IMDb

IMDb diakuisisi oleh Amazon di tahun 1998 dan merupakan database paling populer di seluruh dunia untuk perfileman, TV, selebriti, video game, dan streaming online content.

  • Audible

Audible diakuisisi oleh Amazon tahun 2008 dan merupakan penyedia buku dan konten spoken audio.

  • Zappos

Amazon mengakuisisi ritel sepatu dan pakaian online ini di tahun 2009.

  • Twitch

Twitch dibeli oleh Amazon pada tahun 2014. Twitch adalah platform streaming media sosial dan video game.

  • Whole Foods

Amazon mengakuisisi toko bahan pangan organik, makanan, dan minuman ini pada tahun 2017.

  • Ring

Amazon mengambil alih perusahaan smart home dan home security ini di tahun 2018.

  • Zoox

Perusahaan kendaraan otonom, robotik, dan transportasi ini diakuisisi sepenuhnya dengan kepemilikan sebagai anak perusahaan oleh Amazon di tahun 2020.

  • Metro-Goldwyn-Mayer

Amazon mengakuisisi studio filem dan TV ini pada tahun ini yaitu pada Maret 2022.

Strategi Sistem Distribusi Amazon

Model bisnis Amazon mengikuti strategi distribusi baik B2C dan juga B2B. Platform e-commerce Amazon berhadapan langsung dengan konsumen, menyediakan jutaan produk untuk milyaran pengguna di seluruh dunia. Platform e-commerce Amazon juga digunakan oleh bisnis-bisnis lain yang disebut sebagai toko pihak ketiga untuk menjual produk mereka sendiri di Amazon.

Model Distribusi Hybrid Amazon

  • Pihak Pertama E-commerce Amazon

E-commerce milik Amazon adalah sebuah bisnis B2C, yang menargetkan milyaran konsumen di seluruh dunia. E-commerce B2C bekerja untuk mendapatkan angka. Singkatnya, e-commerce B2C mempunyai margin profit yang ketat dalam jangka pendek, yang digunakan kembali oleh Amazon untuk membesarkan operasionalnya. Bisnis ini berotasi pada variasi produknya yang luas, harga rendah, dan pengiriman yang sangat cepat. Puncaknya, setelah beberapa tahun, Amazon akhirnya sudah menambahkan Prime untuk memfasilitasi konsumen dengan pengiriman gratis.

  • Platform Pihak Ketiga Amazon

Platform pihak ketiga milik Amazon adalah bagian dari e-commerce yang menaungi penjual-penjual lainnya. Platform pihak ketiga ini memfasilitasi mereka untuk menjual produknya di Amazon. Bisnis ini melingkupi ekosistem bisnis yang bergabung dengan platform Amazon untuk menguatkan bisnis penjualan mereka. Penjual pihak ketiga dapat memilih untuk menjual di Amazon dan mengurus fulfillment (Fulfillment by Amazon).

Dalam hal ini, Amazon hanya akan memotong sedikit dari revenue sebagai biaya distribusi. Atau, mereka bisa memutuskan untuk meningkatkan inventaris Amazon. Dalam hal ini, penjual tidak harus menyimpan inventaris apapun, yang mana akan dikirimkan secara langsung ke Amazon dan Amazon yang akan mengurus fulfillment-nya. Penjual hanya akan mengambil sedikit potongan dari keseluruhan revenue karena Amazon yang akan mengurus baik inventaris, distribusi, dan juga fulfillment.

Belajar dari Amazon, sangatlah penting untuk mempunyai strategi sistem distribusi sehingga bisnis berjalan dengan baik dan lancar, sekaligus dapat juga meningkatkan revenue perusahaan. Untuk solusi urusan distribusi pada bisnis Anda, serahkan saja ke Sidig.

Yuk, segera jadwalkan live demo bersama Sidig.

Optimasi Rantai Pasok Bisnis dengan SCM

Optimasi Rantai Pasok Bisnis dengan SCM

Dalam proses bisnis terdapat aktivitas-aktivitas yang krusial dalam alurnya. Untuk memproduksi suatu barang, tentu saja dibutuhkan bahan baku. Supaya bahan baku atau material produksi bisa sampai ke tangan produsen, maka diperlukan pemasok atau supplier bahan baku tersebut.

Dalam mata rantai bisnis, setiap prosesnya penting untuk dikelola. Strategi supply chain atau mata rantai pasok merupakan hal paling krusial demi lancarnya proses bisnis dari alur bahan mentah yang berasal dari supplier hingga menjadi barang jadi dan sampai ke tangan konsumen.

Oleh karena itu, SCM atau Supply Chain Management dibutuhkan untuk mengelola mata rantai pasok. SCM (Supply Chain Management) mengurus seluruh alur produksi barang maupun jasa, mulai dari komponen mentah hingga pengiriman akhir produk ke konsumen. Dalam menjalankan strategi SCM (Supply Chain Management), sebuah perusahaan membuat sebuah jaringan supplier yang menggerakkan produk sepanjang proses dari material mentah hingga ke pihak-pihak yang berinteraksi langsung dengan user.

Apa itu Supply Chain?

Supply chain dapat diartikan sebagai mata rantai pasok. Dalam kegiatan bisnis, supply chain memiliki penjelasan lebih dalam yaitu sebagai proses secara menyeluruh dari pembuatan dan penjualan produk-produk komersial, termasuk setiap tahapan dari alurnya yaitu dari pemasokan material atau bahan dan proses manufaktur barang yang juga melalui proses distribusi dan penjualan.

Lingkup supply chain meliputi sebuah jaringan dari semua organisasi, individu, sumber daya, aktivitas, transportasi, peralatan, dan juga teknologi yang terlibat dalam proses produksi dan penjualan sebuah produk ataupun jasa. Supply chain menjabarkan semua proses dari pengiriman sumber bahan baku dari supplier sampai ke produsen hingga akhirnya dikirim dan sampai ke tangan user atau konsumen.

Tipe-tipe Supply Chain

Proses-proses yang terdapat di dalam supply chain cukup kompleks dan banyak bagian yang terus bergerak sehingga mengelolanya pun tidak mudah. Supply chain disederhanakan menjadi tiga jenis sebagai berikut:

1. Upstream Supply Chain

Upstream supply chain melingkupi semua aktivitas yang berkaitan dengan bagian-bagian dari supplier, yaitu pihak yang menyediakan sumber bahan mentah dan mengirimkannya ke manufaktur. Proses upstream termasuk pengadaan bahan mentah untuk produksi barang dan biaya operasional produksi. Perusahaan yang berfokus pada upstream supply chain dapat memastikan kualitas produk jadi, melacak level inventaris, meminimalisir kekurangan material mentah, dan meningkatkan kepuasan konsumen akhir.

2. Downstream Supply Chain

Downstream supply chain merujuk pada aktivitas setelah proses manufaktur, seperti aktivitas distribusi produk ke toko ritel atau e-commerce dan penjualan ke konsumen akhir. Operasional downstream supply chain termasuk juga pemenuhan pemesanan produk dan pengiriman. Alur informasi dari downstream supply chain berakhir pada konsumen akhir. Perusahaan yang berfokus pada downstream supply chain dapat meningkatkan pengalaman konsumen dan menimba keuntungan yang kompetitif. Pengiriman produk yang tepat waktu adalah kunci dari proses downstream.

3. Internal Supply Chain

Internal supply chain yaitu aktivitas dalam mata rantai pada sebuah perusahaan yang menyediakan material produksi dan pabrikasi. Proses ini melibatkan fungsi-fungsi multipel di dalam perusahaan seperti penjualan, produksi, dan distribusi. Performa perusahaan akan meningkat dengan integrasi dari fungsi-fungsi tersebut.

Apa itu SCM (Supply Chain Management)?

SCM (Supply Chain Management) adalah proses pengelolaan pengiriman produk mulai dari bahan mentah yang diolah hingga menjadi produk jadi ke konsumen. Termasuk di dalamnya itu perencanaan suplai, perencanaan produk, perencanaan demand, penjualan dan perencanaan operasional, dan manajemen suplai. SCM (Supply Chain Management) mengoptimasi pembuatan produk dan alur dari sumber bahan mentah lalu ke proses manufaktur, logistik, dan akhirnya pengiriman ke konsumen akhir.

Pengelolaan supply chain ini meliputi perencanaan dan eksekusi proses yang terintegrasi yang dibutuhkan untuk mengelola pergerakan material, informasi, hingga modal keuangan dalam segala aktivitas yang secara luas melibatkan perencanaan demand, suplai, produksi, manajemen inventaris dan gudang penyimpanan, transportasi atau logistik, dan pengembalian produk yang cacat produksi atau berlebih. SCM (Supply Chain Management) bertumpu pada strategi bisnis, spesialisasi software, dan kolaborasi kerja.

Dengan proses yang ekspansif dan kompleks, setiap pihak mulai dari supplier hingga manufaktur dan seterusnya harus berkomunikasi dan bekerja sama untuk menciptakan efisiensi, mengelola risiko, dan beradaptasi pada perubahan dengan cepat.

Tujuan dari SCM 

Ada beberapa objektif dari SCM (Supply Chain Management) yang penting untuk dipahami. SCM (Supply Chain Management) mempunyai tujuan yaitu menyelaraskan suplai dan demand secara efektif dan efisien. Selain itu juga untuk menghindari berbagai macam masalah yang dapat muncul selama proses integrasi supply chain. Masalah yang sering muncul terkait dengan pengadaan sumber daya, pengelolaan akuisisi, manajemen supplier, manajemen customer relationship, identifikasi masalah dan meresponnya, dan juga manajemen risiko.

Objektif strategik dari SCM (Supply Chain Management) adalah untuk memenangkan kompetisi pasar atau paling tidak untuk bertahan di pasar. Untuk memenangkan kompetisi, sebuah bisnis harus mampu menyediakan produk yang benar-benar bagus dan layak. Supply chain harus bisa menyediakan produk yang terjangkau, berkualitas, dan bervariasi. Jika produk bisa memenuhi demand dan ekspektasi konsumen, bisnis Anda akan dengan mudah memenangkan kompetisi pasar.

Mengapa SCM (Supply Chain Management) Penting bagi Sebuah Bisnis?

Sistem SCM (Supply Chain Management) yang efektif dapat meminimalisir biaya, limbah, dan waktu pada siklus produksi. Standar industri yaitu menjadi just-in-time supply chain di mana penjualan ritel secara otomatis memberikan sinyal penambahan pesanan kepada manufaktur. Stok ritel kemudian bisa ditambahkan hampir secepat produk tersebut terjual. Satu cara untuk meningkatkan proses ini adalah menganalisa data dari supply chain partner untuk melihat di bagian mana yang membutuhkan perhatian dan peningkatan lebih jauh.

Dengan menganalisa data dari supply chain partner, SCM dapat berjalan efektif dan dapat meningkatkan value siklus supply chain.

  • Mengidentifikasi potensi masalah. Ketika seorang konsumen memesan produk melebihi kemampuan manufaktur untuk menyediakan produk tersebut, pembeli bisa jadi komplain terkait pelayanan yang buruk. Melalui analisis data, manufaktur jadi bisa mengantisipasi kekurangan tersebut sebelum pembeli kecewa.
  • Mengoptimasi harga secara dinamik. Produk yang musiman mempunyai masa umur yang terbatas. Pada akhir musimnya, produk-produk ini biasanya dijual dengan diskon yang besar. Maskapai penerbangan dan hotel misalnya, biasanya akan menyesuaikan harga secara dinamik untuk memenuhi permintaan. Dengan menggunakan software analitik, teknik prediksi yang serupa dapat meningkatkan margin.
  • Meningkatkan alokasi inventaris yang menjanjikan. Tool dari software analitik membantu mengalokasikan sumber daya dan menjadwalkan kerja berdasarkan prediksi penjualan, pemesanan barang, dan pengiriman material mentah. Manufaktur dapat mengkonfirmasi tanggal pengiriman produk ketika pemesanan dilakukan. Hal ini dapat secara signifikan menghindarkan dari kesalahan pemenuhan pesanan.

Kelebihan dan Kekurangan SCM (Supply Chain Management)

SCM (Supply Chain Management) mempunyai beberapa kelebihan yang mendatangkan keuntungan bagi sebuah bisnis sehingga berdampak pada profit yang lebih tinggi dan brand image yang lebih baik serta keuntungan kompetitif yang lebih baik juga. Beberapa kelebihannya yaitu:

  • Kemampuan yang lebih baik untuk memprediksi dan memenuhi permintaan konsumen
  • Visibilitas supply chain yang lebih baik, manajemen risiko dan sifat prediktif
  • Mengurangi proses yang tidak efisien dan limbah produk
  • Kualitas produk meningkat
  • Meningkatkan sustainability, baik dari sudut pandang yang bersifat sosial maupun lingkungan
  • Memangkas biaya yang tidak diperlukan
  • Meningkatkan cash flow
  • Logistik lebih efisien

Selain mempunyai kelebihan, SCM (Supply Chain Management) juga mempunyai beberapa kekurangan dalam penerapannya. Setiap bisnis dalam menjalankan SCM (Supply Chain Management) tentu akan berhadapan dengan beberapa tantangan yang merupakan kekurangan dari penerapan SCM (Supply Chain Management) itu sendiri jika dalam pelaksanaannya kurang mempunyai strategi yang tepat, yaitu seperti berikut:

  • Ketersediaan bahan baku yang tidak terpenuhi jika mempunyai supplier yang tidak berkomitmen
  • Banyak pihak terlibat dan memiliki kepentingan yang beragam
  • Ketersediaan produk yang tidak pasti jika kapasitas pabrik tidak dimaksimalkan
  • Stok produk yang berlebihan jika proses distribusi terhambat
  • Permintaan produk tidak pasti karena kurangnya pemasaran produk

Perbedaan Logistik dan Supply Chain

SCM (Supply Chain Management) memetakan strategi dan aktivitas-aktivitas yang dimasukkan ke dalam perencanaan, penyediaan sumber daya, produksi, dan pengiriman barang, dan juga mengatasi masalah pengembalian barang. Logistik berfokus pada produk yang tepat berada di tempat yang tepat pula dan di waktu yang tepat, dan  bagaimana produk-produk tersebut sampai di sana.

Kunci perbedaan antara SCM (Supply Chain Management) dan logistik yaitu terletak pada jangkauan dan fokusnya. Kunci perbedaan di antara mereka termasuk:

  • Logistik adalah aktivitas-aktivitas di dalam SCM (Supply Chain Management). SCM melakukan berbagai aktivitas seperti produksi dan perencanaan inventaris, perencanaan kerja, manajemen material dan fasilitas, manufaktur dan pengiriman barang dan jasa.
  • SCM (Supply Chain Management) bertujuan untuk meningkatkan proses untuk mencapai keuntungan yang kompetitif, sedangkan logistik menekankan pada pemenuhan kebutuhan konsumen dan ekspektasi mereka.
  • Logistik fokus pada pengiriman barang yang efisien dan efektif ke konsumen.
  • SCM mengontrol pengembangan bahan baku mentah hingga menjadi produk jadi yang berpindah dari supplier ke produsen lalu ke gudang kemudian ke ritel dan akhirnya ke konsumen.

Berikut perbedaan SCM (Supply Chain Management) dan logistik yang dijabarkan dalam tabel:

LogistikSCM (Supply Chain Management)
Logistik merupakan satu aktivitas di dalam SCMSCM meliputi aktivitas-aktivitas yang cukup luas; termasuk perencanaan, penyediaan sumber material, manajemen kerja dan fasilitas, produksi dan pengiriman barang dan jasa
Logistik berfokus pada pengiriman barang secara efisien dan efektif ke konsumenSCM menargetkan performa operasional yang lebih tinggi yang akan memberikan bisnis sebuah keuntungan yang kompetitif
Logistik berpusat pada pemindahan dan transportasi barang dalam sebuah perusahaanSCM memangku pengembangan material mentah menjadi barang jadi yang berpindah dari produsen ke manufaktur. Barang-barang tersebut di distribusikan ke ritel atau langsung ke konsumen

Cara Kerja SCM (Supply Chain Management) pada Bisnis

Ada lima komponen dari sistem SCM (Supply Chain Management) yang dijelaskan sebagai berikut:

1. Perencanaan

Perencanaan dan pengelolaan semua sumber daya sangat penting untuk memenuhi permintaan konsumen atas produk atau jasa sebuah bisnis. Ketika supply chain sudah ditentukan dan tetap, tentukanlah metrik untuk mengukur apakah supply chain efisien, efektif, memperlihatkan value ke konsumen dan memenuhi tujuan perusahaan.

2. Penyediaan Sumber Daya

Pilihlah supplier untuk menyediakan barang dan jasa yang dibutuhkan untuk membuat produk-produk bisnis Anda. Lalu, tetapkan proses untuk memonitor dan mengelola hubungan supplier. Kunci prosesnya termasuk pemesanan, penerimaan, pengelolaan inventaris dan otorisasi pembayaran supplier.

3. Manufaktur

Aturlah dengan baik semua aktivitas yang dibutuhkan untuk menerima bahan baku mentah, manufaktur produk, menguji kualitas, mengepak untuk pengiriman dan menjadwalkan pengiriman.

4. Pengiriman dan Logistik

Koordinasikan pesanan konsumen, penjadwalan pengiriman, pengiriman muatan, invoice untuk konsumen, dan penerimaan pembayaran.

5. Pengembalian

Buatlah sebuah jaringan atau alur untuk mengambil kembali barang yang cacat produksi, kelebihan produk, atau produk yang tidak diinginkan.

Penerapan dan Contoh SCM (Supply Chain Management)

Perusahaan umumnya mempunyai sebuah sistem SCM (Supply Chain Management) yang melibatkan beberapa pihak yang berkaitan dalam satu alur melalui 6 langkah, yaitu bahan baku mentah, supplier, manufaktur, distribusi, ritel, dan konsumen.

lqmOFof267EtTqR atH8s6B7Tomzv 7y eJzneMU7aQHO8Fz4NuetecCC OOI s0fYCWvt6xuSypZYQ8pIc X99pgRRknfq

Sumber: www.techtarget.com

Penjelasannya sebagai berikut:

  • Bahan Baku mentah

Langkah pertama yang merupakan tahap awal supply chain adalah penyediaan bahan baku mentah yang sesuai dengan kriteria dan standar perusahaan. Harus dipastikan ketersediaan bahan baku mentah memenuhi permintaan perusahaan sehingga tidak menimbulkan masalah pada proses selanjutnya.

  • Supplier

Bahan baku mentah yang sudah memenuhi syarat perusahaan dikirim ke supplier yang kemudian dijual kembali dalam jumlah besar ke berbagai perusahaan yang membutuhkan untuk produksi barang atau jasa.

  • Manufaktur

Sesampainya di manufaktur, bahan baku mentah tersebut diolah hingga menjadi produk jadi. Kemudian dilakukan pula pengujian produk sehingga lolos uji kualitas, lalu produk jadi yang lolos uji kualitas akan didistribusikan ke konsumen.

  • Distributor

Distributor bertugas mendistribusikan produk ke seluruh area target. Biasanya distributor tidak menyalurkan barang langsung ke konsumen akhir, namun ke pedagang ritel terlebih dahulu.

  • Ritel

Pengusaha ritel memegang kendali penuh untuk urusan pemasaran produk. Pihak ritel ini yang langsung berinteraksi dengan konsumen akhir dan menjual produknya langsung ke konsumen akhir.

  • Konsumen

Setelah melalui 5 langkah sebelumnya, produk akhirnya pun sampai di konsumen akhir. Pihak konsumen ini yang kemudian akan menentukan demand produk selanjutnya. Setelah berada di tangan konsumen, siklus supply chain ini kembali berputar mulai dari bahan baku mentah untuk produksi.

Dalam penerapannya, SCM memiliki 4 model yaitu model make-to-stock terintegrasi, model build-to-order, model penambahan berkelanjutan, dan model perkumpulan channel. Contohnya, Starbuck menerapkan model make-to-stock terintegrasi. Model ini melacak permintaan konsumen secara real-time, sehingga inventaris bisa diproses dan distok ulang secara efisien. Data yang didapat secara real-time juga dapat digunakan untuk mengembangkan dan memodifikasi rencana produksi dan penjadwalan. Starbuck menggunakan beberapa channel distribusi ― tidak hanya menjual minuman kopi ke konsumen tetapi juga menjual biji kopi dan juga bubuk kopi untuk bisnis yang lebih besar lintas industri. Starbuck sukses mengintegrasi semua sumber dari permintaan dengan menggunakan sistem informasi otomatis untuk manufaktur. Sistem ini melingkupi perencanaan, manufaktur, penjadwalan, dan kontrol inventaris.

Peran Software SCM

Beberapa masalah bisa muncul dalam pelaksanaan SCM. SCM harus bisa mengontrol area jaringan distribusi mulai dari jumlah, lokasi, supplier fasilitas produksi, pusat distribusi, pergudangan, dan konsumen. Untuk melaksanakan proses supply chain ini, dibutuhkan sebuah strategi sehingga bisa lebih efektif dan efisien. Oleh karenanya, dibutuhkan teknologi terintegrasi atau software sehingga proses distribusi dapat berjalan dengan lancar. Dengan bantuan software distribusi, informasi harga distribusi, inventaris, dan juga masalah transportasi bisa terlaksana dengan lancar. Salah satu software distribusi yang bisa Anda gunakan demi kelancaran proses SCM perusahaan Anda yaitu Sidig. Pelajari selengkapnya dengan mengunjungi https://sidig.id/

Contoh Loyalty Program untuk Pelanggan Terbaik

Contoh Loyalty Program untuk Pelanggan Terbaik

Apa itu loyalty program? Dan apa contoh loyalty program? Mari kita bahas!

Kepuasan pelanggan merupakan salah satu KPI yang ingin dicapai perusahaan. Untuk mewujudkan kepuasan pelanggan, maka perlu untuk mendapat kepercayaan dari pelanggan tersebut. Membutuhkan strategi yang matang untuk membangun kepercayaan pelanggan terhadap perusahaan. Jika seorang konsumen sejak pembelian pertama sudah merasa tidak nyaman dengan transaksi pembeliannya, dia pasti akan langsung pergi dan tidak akan melakukan pembelian ulang produk perusahaan tersebut. Namun, jika sejak pertama seorang konsumen mempunyai pengalaman berbelanja yang nyaman dan menyenangkan dibarengi dengan produk yang sesuai dengan ekspektasi, maka dia akan menaruh kepercayaan terhadap brand atau perusahaan tersebut. Bagaimanapun service merupakan aspek penting selain kualitas produk itu sendiri. Jika layanan perusahaan baik dan kualitas produk perusahaan juga baik, di situlah kepuasan pelanggan akan terpenuhi.

Salah satu strategi yang bisa diimplementasikan perusahaan dalam mencapai KPI kepuasan pelanggan adalah program loyalitas pelanggan. Contoh loyalty program seperti pemberian diskon, hadiah, dan penawaran menarik lainnya berguna untuk mendapat lebih banyak konsumen dan menarik konsumen lama untuk melakukan pembelian ulang sehingga terbangun kepercayaan konsumen terhadap perusahaan.

Untuk lebih paham tentang contoh loyalty program, simak artikel ini sampai habis, ya.

Apa itu Loyalty Program untuk Konsumen?

Loyalty program untuk konsumen adalah pemberian reward kepada konsumen atau pelanggan yang berinteraksi dengan brand secara berulang. Beberapa keuntungan dari loyalty program yaitu menarik konsumen baru, mempertahankan konsumen lama, mengaktifkan lagi konsumen yang tidak aktif, mendorong mereka untuk lebih banyak belanja, dll.

Cara Kerja Loyalty Program

Dengan loyalty program, perusahaan dapat menawarkan poin atau keuntungan kepada konsumen. Mereka bisa menukarkan poin dengan diskon, produk gratis, reward, atau keuntungan lainnya. Tujuannya adalah untuk memotivasi pembelian ulang dan membangun kepercayaan konsumen. Penelitian dari Salesforce menyatakan bahwa 95% konsumen mengatakan kepercayaan terhadap perusahaan menaikkan loyalitas mereka.

Banyak konsumen yang mengikuti loyalty program sebuah brand jika mereka menyukai brand tersebut. Kemudian, kebanyakan konsumen juga menginginkan free ongkir, diskon, akses dini ke promosi dan produk baru juga.

Menjalankan loyalty program berarti juga perusahaan harus mengorbankan sesuatu seperti memberi diskon, sales, akses dini, dll. Namun, timbal balik dari pengadaan program reward sangatlah besar seperti mendapatkan lebih banyak referral kustomer, retensi konsumen lebih tinggi, lebih banyak penjualan, dan advokasi brand.

Tipe-tipe Program Reward

Setelah mengetahui cara kerja loyalty program dan sebelum lanjut ke contoh loyalty program yang sudah terlaksana di beberapa perusahaan, berikut tipe-tipe loyalty program yang bisa dijadikan sebagai referensi untuk bisnis Anda.

1. Program Loyalitas Berupa Poin

Program poin adalah tipe yang paling umum. Konsumen punya kesempatan mendapatkan reward poin untuk dikumpulkan, dan nantinya bisa ditukarkan dengan freebies, cashback, diskon, dll. Poin tidak hanya didapat dari transaksi pembelian saja, tapi bisa juga dengan cara sharing di media sosial, memberi ulasan, ketika ulang tahun, atau dengan memainkan game tertentu jika program reward berbasis aplikasi.

2. Program Loyalitas Berdasarkan Tingkatan Membership

Tipe ini terkait level membership yang dimiliki konsumen, di mana member mempunyai keuntungan yang berbeda-beda tergantung tingkatan mereka. Tingkatan ditentukan dengan metrik seperti sales atau engagement. Tipe ini memberi konsumen suatu tujuan. Semakin tinggi tingkatannya, maka membership semakin eksklusif dan reward yang didapat juga nilainya lebih tinggi.

3. Program Loyalitas Berbayar

Loyalty program berbayar memberikan konsumen keuntungan dengan segera. Biaya program ini bisa berulang atau rutin dibayarkan atau hanya sekali bayar saja. Tipe ini dapat menghasilkan customer value yang lebih tinggi. Sebuah riset menunjukkan bahwa 62% member loyalty program berbayar akan mau menghabiskan lebih banyak uang untuk membeli barang sebuah brand setelah mengikuti programnya.

4. Program Loyalitas Value-Based

Tipe ini bertujuan untuk terkoneksi dengan konsumen secara lebih dalam. Program ini melibatkan donasi beberapa persen dari pembelian untuk amal atau program kesejahteraan. Program ini tidak benar-benar memberikan reward ke konsumen, namun akan menyentuh sisi lain konsumen berupa koneksi spesial karena reward digunakan untuk keuntungan sosial.

Contoh Loyalty Program

1. Sephora

Beauty Insider milik Sephora adalah salah satu contoh loyalty program terbaik dari tipe tingkatan membership berbasis poin. Member bisa mendapatkan poin dari setiap transaksi dan menaiki tangga tingkatannya yaitu dari ‘insider’ ke ‘VIB’ dan ke ‘rouge’. Bahkan meskipun mereka tidak melakukan pembelian, member tetap bisa menikmati beberapa keuntungan dengan menjadi ‘insider.’ Sephora menargetkan mereka dengan deal member eksklusif dan penawaran spesial.

Program reward Sephora lebih dari sekedar pengejaran diskon dengan menghabiskan sejumlah uang untuk belanja, keuntungan yang didapat dari brand juga berupa kado ulang tahun, event eksklusif, giveaway, dan launching produk.

2. The Body Shop

The Body Shop meyakini bahwa sebuah bisnis bisa menjadi daya yang baik, sehingga ketika mereka mengembangkan loyalty program, mereka memudahkan konsumen untuk mendapat reward sekaligus memberi pilihan untuk berdonasi. Program mereka bernama Love Your Body Club. Member bisa mengumpulkan poin ketika melakukan pembelian, sekalinya mereka mencapai 100 poin, mereka akan dapat reward $10 untuk dibelanjakan. Namun, member punya pilihan untuk mendonasikan reward $10 tersebut ke salah satu mitra amal mereka.

Strategi ini tidak hanya memperkuat image brand, tetapi juga bisa meningkatkan engagement konsumen dan loyalitas brand karena value konsumen tercermin dalam program ini.

3. Starbuck

Dengan program Starbuck reward, setiap pembelian membawa konsumen lebih dekat dengan minuman atau makanan gratis. Poin di Starbuck reward lebih dikenal dengan ‘star’ dan untuk mengumpulkan star loyalitas, Anda hanya perlu membeli minuman atau makanan dengan menggunakan Starbuck card. Selain itu, ada juga birthday treat dapat ditukarkan dengan cake tertentu, kemudian member juga sering mendapatkan kejutan penawaran menarik seperti diskon, promo, atau kesempatan mendapat star berlipat ganda di periode tertentu. Member juga akan mendapat informasi launching produk dan berbagai informasi yang memberi keuntungan member.

Starbuck card juga dapat digunakan untuk deposit saldo, sehingga pembayaran bisa dilakukan dengan cashless sambil mengumpulkan star untuk mendapatkan reward per 100 stars; yang bisa ditukarkan dengan free beverage maupun Starbuck VIA (beans kopi).

4. Apple

Yang ini sedikit berbeda. Terkadang, program loyalitas paling inovatif adalah punya konsumen loyal tanpa mengaplikasikan loyalty program sama sekali. Tidak setiap ritel dapat membangun konsumen yang loyal dan berdedikasi seperti yang dilakukan oleh Apple yang mana tidak menawarkan reward maupun insentif sekalipun. Namun ritel tetap punya keinginan sendiri untuk benar-benar menjual keunikan produk.

Dengan mengikat konsumen menggunakan produk itu sendiri, menciptakan pengalaman luar biasa untuk konsumen, dan menawarkan keuntungan dari setiap pembelian; Anda dapat mengeliminasi kebutuhan loyalty program yang konvensional dan beralih ke sistem yang terdigitalisasi menggunakan aplikasi berbasis software.

Loyalty Program untuk Distributor

Loyalty Program untuk Distributor

Loyalty program atau program loyalitas konsumen merupakan sebuah strategi yang berguna untuk menggaet pelanggan dan mempertahankan mereka untuk tetap setia membeli barang atau jasa yang dihasilkan sebuah perusahaan. Program tersebut bisa berupa diskon, hadiah, kupon, maupun penawaran khusus lainnya.

Selain loyalty program untuk konsumen, perusahaan juga sebaiknya mempunyai strategi pemberlakukan loyalty program untuk mitra seperti distributor. Selain menjual produk langsung ke konsumen, banyak perusahaan yang juga menjalankan bisnis B2B dengan mitra atau partner. Program loyalitas yang menarik untuk channel partner sangatlah penting dimiliki perusahaan dalam rangka menjalin relasi dan juga memberikan apresiasi kinerja mitra supaya tetap bisa bekerja sama dalam jangka waktu panjang.

Pentingnya Loyalty Program untuk Distributor

1. Meningkatkan Proses Distribusi

Loyalty program untuk distributor membantu untuk meningkatkan distribusi produk Anda untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Memberikan insentif untuk sistem distribusi dapat memotivasi mitra channel Anda untuk memprioritaskan dan menempatkan produk Anda lebih premium daripada yang ditawarkan oleh kompetitor Anda. Mitra channel Anda termotivasi oleh apa yang ditawarkan kepada mereka jika mereka menampilkan produk Anda dengan cara terbaiknya.

2. Brand Lebih Dikenal

Distributor berperan penting dalam mempromosikan brand Anda. Program distributor yang sukses melibatkan channel komunikasi yang terbuka dan transparan dalam jaringan distribusi mereka untuk mentransfer informasi vital dan promosi mengenai produk mereka ke distributor mereka.

3. Meningkatkan Loyalitas Konsumen

Program reward distributor yang efektif dapat memberikan efek yang kuat pada loyalitas konsumen. Konsumen dalam berbelanja mencari pengalaman berbelanja yang lebih personal, layanan kustomer yang responsif, dan kepuasan layanan secara keseluruhan dari brand.

Bagaimana Cara Kerja Loyalty Program untuk Distributor?

Susunlah loyalty program distributor Anda dengan baik, dan Anda juga bisa bermitra dengan pemasok untuk membiayai loyalty program Anda karena loyalty program akan berdampak baik untuk bisnis Anda dalam jangka panjang. Beberapa hal yang akan didapat dengan memberikan loyalty program untuk distributor yaitu:

  • Menciptakan poin perbedaan yang nyata dibandingkan dengan kompetitor
  • Meningkatkan pemeliharaan engagement  kepada pelanggan
  • Menguatkan hubungan dengan mitra pemasok
  • Menghasilkan aliran pemasukan tambahan — pembayaran pemasok untuk program loyalitas akan menambah penghasilan

Dengan eksekusi yang benar, loyalty program untuk distributor akan memungkinkan Anda untuk membangun database kustomer, membangun dan mendukung marketing Anda untuk jangka panjang.

Contoh Loyalty Program Terbaik untuk Distributor

Berikut beberapa loyalty program terbaik yang bisa Anda aplikasikan untuk membantu mendukung komitmen dan dedikasi dari distributor perusahaan.

1. Program Rebate Distributor

Banyak perusahaan besar yang bergantung pada program rebate untuk mengejar sales. Dampaknya sudah dirasakan secara besar-besaran di banyak industri secara lintas global. Rebate distributor sudah terbukti sangat menguntungkan untuk banyak perusahaan karena hal tersebut dapat menjadi faktor penentu laba atau rugi di banyak bisnis.

Rebate distributor adalah pengembalian uang (refund) pembelian dari harga yang ditawarkan ke distributor setelah penjualan selesai. Program rebate distributor biasanya ditawarkan untuk mempromosikan produk dan memberi reward ke distributor yang membeli lebih dengan memberi mereka laba bruto yang lebih baik. Distributor menganggap rebate sebagai jalan untuk menghemat biaya dan menaikkan laba.

Tipe program rebate yang bisa ditawarkan ke distributor yaitu:

  • Growth Rebate

Growth rebate ditawarkan ke distributor yang menggiring pertumbuhan volume dari produk tertentu. Refund tersebut hanya dibayarkan jika target persentase volume tercapai.

  • Mixed Rebate

Mixed rebate ditawarkan ke distributor untuk menjual banyak produk sekaligus dengan laba bruto yang tinggi.

2. SPIFF (Sales Performance Incentive Fund)

SPIFF (Sales Performance Incentive Fund) adalah program insentif jangka pendek yang bertujuan supaya distributor menggiring sales. Program tersebut membantu untuk menaikkan hubungan antara perusahaan dan distributor dan memperbaiki performa. Sebelum rilis sebuah program SPIFF distributor, perusahaan harus mengatur framework yang tepat untuk mencapai kesuksesan program distributor.

Berikut langkah-langkah yang dapat membantu untuk mengimplementasikan program SPIFF yang menguntungkan untuk mitra perusahaan:

  • Atur partisipasi SPIFF sehingga cocok dengan kebutuhan bisnis dan tujuan perusahaan.
  • Uji program SPIFF yang lama untuk mengukur di mana yang salah dan berupaya memperbaikinya.
  • Pilih dari jangkauan pilihan reward SPIFF yang populer seperti reward trip gratis, kartu prepaid, dan merchandise.

3. Insentif Konsumen yang Didapat Melalui Distributor

Program insentif yang baik harus didesain untuk setiap lapisan, termasuk distributor, reseller, dan kustomer. Sebuah bisnis dapat mengatur distributor mereka untuk meluncurkan campaign insetif konsumen mewakili perusahaan. Distributor lebih terkoneksi dengan konsumen. Oleh karena itu mereka ada di posisi terbaik untuk mengerti apa yang konsumen inginkan untuk mendorong mereka menjadi pelanggan yang melakukan pembelian berulang.

Loyalty program membantu menaikkan dan memperbaiki keuntungan dan revenue perusahaan. Konsumen menginginkan perusahaan untuk memberikan reward atas loyalitas mereka. Mendorong distributor untuk melancarkan program loyalitas konsumen adalah cara yang tepat untuk mempertahankan keberlangsungan pertumbuhan dan relevansi di pasar.

Aplikasi Sidig hadir untuk membantu jalannya proses loyalty program distributor yang menjadi ekosistemnya. Dengan berbagai fitur andalannya, Sidig mampu untuk memberi kemudahan dan kelancaran jalannya loyalty program untuk distributor.

Strategi Loyalty Program untuk Produk Rumah Tangga

Strategi Loyalty Program untuk Produk Rumah Tangga

Apakah sektor produk rumah tangga juga membutuhkan loyalty program untuk konsumen produk rumah tangga?

Dari semua strategi marketing yang dijalankan oleh perusahaan, salah satunya adalah usaha untuk mendapatkan dan membangun kepercayaan konsumen sehingga dapat mengkonversi seorang kustomer menjadi seorang pelanggan tetap atau pelanggan setia produk yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut. Strategi untuk membangun kepercayaan konsumen ini disebut juga dengan loyalty program atau program loyalitas.

Di semua sektor, termasuk juga sektor produk rumah tangga, penting untuk mempunyai strategi marketing seperti loyalty program untuk produk rumah tangga guna menggaet konsumen baru dan mempertahankan konsumen lama.

Di era yang kental dengan sosial media ini, aspek estetik menjadi penting. Sekarang ini banyak sekali content creator yang membuat konten memasak atau konten lainnya yang berlatar belakang interior. Sehingga, produk rumah tangga pun semakin diminati sebagai properti konten atau latar pembuatan konten untuk menambah nilai estetik konten. Selain itu, di jaman sekarang juga sudah banyak generasi milenial yang menaruh minat lebih pada produk rumah tangga demi kenyaman tinggal di hunian mereka. Di sinilah loyalty program untuk produk rumah tangga berperan penting dalam bisnis produk rumah tangga milik Anda.

Loyalty program sudah terbukti menjadi salah satu strategi marketing yang sangat efektif untuk menaikkan revenue dan loyalitas konsumen. Dengan semakin ketatnya persaingan, sebuah brand harus memastikan loyalty program untuk produk rumah tangga mereka lebih baik dari kompetitor. Sebuah brand perlu berinovasi untuk menaikkan engagement kustomer, menciptakan sebuah proporsi value yang melampaui poin dan reward.

1. K Club Rewards Kirkland’s

Kirkland’s mempunyai pedoman: style yang bagus dapat datang dengan harga yang bagus pula. Kirkland’s mengupayakan untuk melayani konsumen dengan semua hal yang mereka butuhkan untuk menciptakan ruang hidup yang menginspirasi untuk menghidupi kehidupan yang menginspirasi. Program loyalitas Kirkland’s, K Club Rewards menduduki posisi sebagai loyalty program terbaik untuk produk rumah tangga di Amerika tahun 2021 oleh Majalah Newsweek.

K Club Reward berfokus pada customer engagement. Beberapa keuntungan dari K Club Rewards yaitu kesempatan untuk memenangkan $500 gift card untuk satu pemenang beruntung dengan syarat pembelian ataupun mengulas produk. Strategi ini mempunyai banyak manfaat, tidak hanya menaikkan jumlah ulasan produk, tapi juga mengikat konsumen untuk membeli lagi ketika mereka menebus gift card. Selain itu, Kirkland’s juga berusaha melakukan pendekatan personal ke konsumen dengan memberi kejutan kepada member yang berulang tahun berupa penawaran spesial seperti double point, akses eksklusif, dan bonus tahunan. Penggunaan kartu kredit juga memberi keuntungan konsumen untuk mendapat 2x poin ketika melakukan pembelian. Semua keuntungan ini menciptakan engagement yang tinggi dengan kustomer dan mengkonversi mereka menjadi konsumen loyal Kirkland’s.

2. Middleby Residential Program VIP Middleby

Middleby Residential adalah perusahaan yang terdepan dalam ultra-premium, pasar produk rumah tangga residensial. Peralatan masak komersil Middleby menjalin bisnis dengan 97 dari top 100 rantai layanan makanan di Amerika dan ranah internasional.

Middleby sudah membuat loyalty program yang sempurna dan seimbang dalam hal pengumpulan poin dan rewards. Member mendapat poin dari berbagai aktivitas seperti membuat akun dan melengkapi profilnya. Aktivitas sederhana untuk mengumpulkan poin seperti ini menaikkan jumlah konsumen untuk registrasi member. Sekalinya konsumen mendaftar member, program VIP Middleby fokus pada loyalitas sosial. Middleby menggunakan strategi media sosial untuk meningkatkan engagement. Middleby mengajak member online untuk membagikan Facebook page dan postingan brand. Member bisa upload foto untuk mendapat poin untuk mendapat reward jika sudah terkumpul. Selain itu, konsumen juga bisa mengunggah nota pembelanjaan ke akun mereka dan member akan mendapat sejumlah poin juga.

3. Inside Perks At Home

At Home adalah spesialis produk dekorasi rumah. Mereka punya passion membantu keluarga untuk membangun rumah yang terjangkau. Keberlangsungan merupakan aspek penting bagi At Home. Mereka punya strategi untuk meminimalisir penggunaan energi dan footprint karbon.

At Home memanfaatkan program reward untuk memberi eksklusifitas bagi member. At Home memberi level VIP untuk top customer. VIP member punya prioritas customer care, akses informasi produk baru yang dirilis dengan harga spesial. Member juga mendapat tips untuk mendekor ulang rumah mereka. Dengan begitu kustomer dapat mempunyai ikatan personal dan punya keterikatan dengan brand.

4. Beyond+ Bed Bath & Beyond

Bed Bath & Beyond Inc adalah toko ritel merchandise domestik di Amerika, termasuk dalam Fortune 500 dan Forbes Global 2000. Beyond+ adalah program reward berlangganan. Dengan $29 saja per tahun, member akan mendapat diskon 20% untuk semua transaksi pembelian dan juga free ongkir. Program ini menguntungkan konsumen karena mereka berinvestasi pada langganan Beyond+. Loyalitas transaksi memastikan pembelian berulang di masa depan. Member akan tetap berinvestasi dengan Beyond+ dan tidak mungkin membeli dari kompetitor. Benefit lainnya yaitu member yang memilih komunikasi lewat email akan mendapat diskon tambahan untuk sekali pembelian. Email menginformasikan produk baru, promosi, dll. Channel komunikasi tambahan ini membantu Bed Bath & Beyond menaikkan ROI marketing campaign mereka dan mengikat lebih banyak kustomer.

5. Ace Rewards Ace Hardware

Anda pasti sudah familiar dengan Ace Hardware yang punya lebih dari 5000 toko tersebar di seluruh dunia. Ace Reward adalah loyalty program dan menjadi keunikan dari loyalty app. Member layak mendapat in-app benefit yang eksklusif setelah menghubungkan akun mereka dengan aplikasi. Aplikasi menyediakan penawaran eksklusif untuk member dan aktivitasnya juga memberi poin. Member utama mendapat diskon ekstra 10% atau 3x poin loyalitas untuk transaksi pembelian. Platform tambahan seperti aplikasi tersebut menjadikan Ace Hardware berhasil menaikkan customer engagement dan punya strategi reward loyalitas yang bernilai tinggi bagi brand.

Selain loyalty program berupan poin, diskon, dan membership; bisnis ritel atau manufaktur produk rumah tangga dapat juga memberikan layanan purna jual dan sistem garansi produk. Saat ini layanan tersebut sudah bisa dilakukan melalui sistem yang terdigitalisasi menggunakan aplikasi berbasis software. Salah satu software yang sudah dikembangkan untuk membantu banyak proses di bisnis Anda adalah Sidig. Sidig hadir menjadi solusi kebutuhan bisnis Anda yang berfokus pada program loyalitas yaitu layanan purna jual dan pengelolaan garansi produk. Sidig dapat memudahkan proses ekonomi yang berjalan di principal, distributor, service center, seller, dan bahkan juga konsumen. Pelajari selengkapnya di sini.

WeCreativez WhatsApp Support
Kontak kami melalui Whatsapp
👋 Halo,ada yang bisa kami bantu?